Sulitnya memilih

 

Sulitnya memilih

Pemilu 2014 masih saja seperti pemilu-pemilu sebelumnya. Memang perubahan-perubahan yang ada dalam pengaturannya hanya untuk saling depak antar partai yang akan berlomba masuk jadi nominasi atau biar ada dalam daftar coblos. Partai-partai kecil seperti tidak kapok-kapoknya untuk berusaha eksis dan berada dalam daftar coblos. Namun jumlah partai jelas bukan tujuan untuk membangun masyarakat di ribuan pulau ini. Yang diperlukan tentunya adalah gagasan-gagasan cerdas untuk membangun bangsa dengan cara irit dan bukan cara boros laksana artis-artis yang memerlukan sepatu dan pakaian mewah untuk bisa tampil agar terlihat cerdas dan kopen.

Hanya orang cerdas yang bisa memilih dengan benar, dan akan sangat pusing jika tidak ada plihan yang sesuai dengan mimpinya. Namun tentu orang yang berpikir sampai pusing tujuh keliling untuk memilih mana yang baik akan dipusingkan juga dengan apa yang diperlukan para calon legislatif. Calon legislatif membutuhkan suara untuk dapat duduk di kursi legislatif dan berbagai cara saat ini tentunya sedang diupayakan. Karena bagaimanapun contoh-contoh eksperimentasi pembangunan selama ini dari tahun 1945 tidak ada yang bisa dikatakan jitu. Hanya yang memiliki gagasan cerdas yang bisa menembus lini-lini strategi untuk memberikan sesuatu yang baik bagi masyarakat.

Siapa orang itu?

Untuk mendengarkan paparan ribuan caleg yang memilki gagasan tentunya membutuhkan waktu yang sangat lama dan kan menjadikan semuanya tidak bekerja sehingga semua masalah malah terbengkelai dan tidak selesai. Sungguh sesuatu yang sulit. Apalagi ketika memiliki orang-orang atau teman yang cukup bagus untuk dipilih namun pada praktek perjalanannya nanti ketika terpilih dia harus tunduk pada makelarnya yaitu DPP dan atasan di partainya. Belum ada praktik baik yang bisa dilihat, pun ketika harus berhadapan dengan para birokrat yang menjadi pekerja praktis negara dan digaji dengan bayaran yang besar-besar. Pergelutan kepentingan masih ada nun jauh di sana setelah pesta pemilihan orang-orang yang tidak jaminan mereka akan bisa mengatasi hal itu, atau justru terseret ke praktik-praktik kenegaraan lawasan dan sudah mentradisi.

Pada dasarnya orang-orang juga memiliki catatan-catatan tersendiri terhadap orang-orang yang gambarnya ada dipinggir-pinggir jalan dan di persawahan. Catatan-catatan itu teramat penting untuk dilupakan sehingga masih digunakan untuk menyelesaikan soal ujian pada 9 April nanti. Manusia mana sih yang bisa berubah 100 persen. Mustahil, yang dulunya hanya begitu-begitu nanti akan jadi lebih baik... tentu sangat mustahil.

Atau kemungkinan saat ini yang diperlukan bukanlah orang pinter yang memiliki gagasan baru, karena mungkin hanya akan dimusuhi banyak orang seperti Gus Dur yang dahulu gagasannya sangat penting dan istimewa, namun apa hasilnya? Justru dikalahkan dengan sangat menyakitkan. Banyak kepentingan yang tak bisa bersinergi dan diselesaikan secara bareng. Jadi mungkin kita hanya butuh orang-orang yang bisa memberi contoh untuk bekerja dengan menyenangkan, memberikan hiburan dan sekedar penjelasan bagi permasalahan dengan gamblang dan bukan dengan berakting memiliki empati dengan kata 'prihatin'.

Jadi sepertinya saat ini dibutuhkan orang yang tidak mudah marah, sabar, mau bekerja dan kelihatan berkeringat, tidak memerlukan puji-pujian dan tidak suka berjanji apalagi harus menuangkan gagasan-gagasan baru yang pada praktiknya tidak bisa dijalankan. Sekarang kita butuh hiburan sebagai pelepas lelah setelah seharian bekerja dan menikmati sulitnya hidup. Tidak butuh orang yang pamer kekayaan karena sebenarnya kita sudah melarat semuanya, tidak punya apa-apa selain mengharapkan perubahan yang datang dari langit.

Mungkin.

Atas