Sekat

 

Sekat

Bangsa yang kuat ini, sebenarnya memiliki jutaan patriot, berhati bersih dan taat pada kearifan-kearifan yang berlaku lama di Nusantara ini. Mereka tumbuh bak rumput yang menghijau di padang golf atau di seantero negeri ini. Memiliki hati nurani dan keinginan yang sama untuk kesejahteraan. Secara berdikari mereka menjalani hidupnya dengan perjuangan yang tidak kenal lelah. Tidak satu butirpun tetes keburukan dalam otak dan hatinya, untuk saling menyakiti apalagi berbuat curang untuk kehidupannya, kenyamanan, keamanan adalah mimpi yang tak pernah pupus.

Secara individual mereka hidup tanpa mimpi dan kemauan untuk saling membunuh, memperkosa, maupun sebaliknya untuk dibunuh, diperkosa ataupun dibohongi. Mereka itu kalian, anak-anak kita, teman-teman kita bahkan mungkin orangtua maupun tetangga kita yang rela untuk hidup berat tanpa mengeluh maupun berusaha menumbangkan kekuasaan tertentu. Rela mencoba mencari sesuatu penghidupan melalui ranah-ranah yang tak biasa dengan kata lain alternatif, underground dalam pemikiran dan kiprah politik maupun berbangsa.

Memiliki keyakinan teguh untuk berprestasi meski dalam anonimitas, walau kadang narsistik namun masih wajar. Sebuah dunia tanpa batas, namun kadang juga dicemari dengan kejahatan yang berasal dari implikasi alam kehidupan nyata yang sering tak bernalar. Sebuah dunia yang hitam putih dimana jelas adanya kejahatan dan kebaikan, tanpa abu-abu, laksana alam siluman sejatinya bagi yang pernah menjelajahinya.

Mungkin di masa yang lalupun hal ini berlaku ketika individu-individu tersebut masih menjadi pejuang bagi dirinya sendiri. Akan tiba saatnya sandungan dan jebakan muncul ketika berhadapan dengan kepentingan yang lebih luas, ketika individu-individu tersebut berkumpul kemudian menjadi kami dan mereka. Menciptakan jurang pemisah atau sekat yang berawal tipis namun berangsur menjadi sebuah tembok yang kokoh. Sekat individual menjadi sangat berbahaya ketika berkembang menjadi kepentingan, wilayah, brand, milik, kepuasan, hingga dominasi kami dan mereka.

Untuk seterusnya membuat uniform, kode, bahkan alur pikiran yang bersekat-sekat. Mencari bahkan membuat dewa ataupun jargon sendiri-sendiri, menisbikan universalitas tanpa batas. Rela mati ataupun mengeluarkan biaya tinggi untuk berperang demi ideologi karangannya maupun membodohi sesama demi memuaskan angkara murka massal yang tidak dipahaminya. Sayang seribu sayang, perbedaan mendasar bawaan adalah anugerah alam namun tidak dipahami sebagai kekayaan untuk saling menimba pengetahuan dan sarana untuk menuju ketiadaan batas individual dalam arti kedamaian dan universalitas. Bukankah hidup ini untuk mendobrak keterbatasan dan keniscayaan untuk menjadi manusia “sempurna” dalam kemanusiaannya sendiri.

Atas