pyromania

 

pyromania

Percuma memang memiliki kementrian yang hanya menjadi ajang untuk mengucurkan dana, namun tak memberikan karya nyata, hanya selebritas dan seremonial saja di tingkat atas. Juga kantor-kantor megah pemerintahan. Yang bukan pemerintahan juga tak kalah megahnya sebagaimana gedung-gedung wakil rakyat yang mungkin malah nggak pernah dipakai untuk rapat berembug masalah yang ada di grassroot. Gedung-gedung tersebut hanya untuk administrasi penggajian dan penyimpanan kuitansi kunjungan, tak lebih mungkin hanya arsip-arsip yang setelah di simpan tak ada yang boleh memeriksanya lagi, apalagi rakyat.

Memang ada undang-undang keterbukaan informasi publik, namun pastinya akan di berlakukan juga undang-undang yang sebaliknya, untuk menutupi informasi publik yang sifatnya rahasia. Toh IMF pn mengatakan bahwa tak ada secuilpun negara di dunia ini yang bisa lepas dari krisis global. Jadi untuk apa bilang nasionalisme, atau apa ketika semuanya tersambung, satu krisis yang lain tertular, sementara yang lainnya menghitung laba. Ada apa? memang tidak ada apa-apa toh setiap hari kita juga cukup hanya dengan 3 kali makan, masalah harga itu tergantung kemanusiaan masing-masing tentunya.

Atas bawah tidak sama

Sebagai warga yang baik pastinya mengakui prinsip dasar bernegara yang Bhinneka Tunggal Ika, mengakui ada agama-agama langit yang sah beredar di negari ini. Saling hormat-menghormati memang ada dan tercantum dalam kurikulum pendidikan resmi, utamanya sekolah-sekolah negeri, entah jika di sekolah swasta keagamaan ( belum pernah sekolah swasta - maaf ). Di atas di kalangan elite pastinya mengakui di atas kertas yang di atas meja tentang prinsip dan konstitusi bernegara, namun entah dua kaki yang berada di bawah mejanya. Bukan rahasia umum, mulut di pusat berkata A, ketika disampaikan menjadi instruksi bernada C#. 

Celaka memang ketika keyakinan beragama di perseterukan, mengapa menjadi firqah-firqah atau sekte-sekte? Jelas itu karena perbedaan prinsip dan olah cara pandang yang berbeda. Satu sisi itu memperkaya pandangan secara ilmu pengetahuan, sisi lain secara ekonomi mungkin beda lagi, sisi lain dalam hal politik kekuasaan juga akan sangat berbeda memandangnya. Konflik-konflik atas nama agraria selalu saja berada di papan atas, meski dengan kemasan konflik yang selalu berbeda, tergantung kreatifitas pelaksananya mungkin. 

Konflik Mesuji, mungkin hanyalah akan menjadi tumpukan arsip sebagaimana biasa. Konflik agama Ahmadiyah yang mengganggu katanya, juga konflik sunni syiah yang sudah sejak kurang dari 50 tahun agama Islam berada. Masih saja diruncingkan hingga sekarang. Sudah jelas bahwa akidah tidak mengijinkan untuk saling menyakiti, konstitusi negara yang mengajarkan untuk selalu rukun, namun mengapa ada tangan lain yang tidak terima dengan hal itu?

Negara persemakmuran konflik

Bagaimana tidak putus asa, sebagaimana aksi bakar diri seorang pemuda di depan istana bulan lalu, atau aksi jahit mulut sendiri di depan gedung milik para wakilnya. Kasihan memang kita ini, mau mengadu ke siapa, apa mungkin kata 'mengadu', 'aduan' dan lainnya yang punya konotasi beda harus di advokasi menjadi 'laporan' atau lainnya yang lebih bagus, bukan seperti 'unjuk rasa' yang akhirnya di jalanan 'rasa' itu 'dihancurkan' dengan pentungan, mana yang mau di 'unjuk'kan jadinya. Semuanya mentok.

Jadi apa mungkin pilihannya 'konflik', saya rasa bukan juga. Konflik itu melibatkan banyak pihak, jika konflik adalah event, maka akan ada banyak undangan yang disebar untuk mensukseskan event tersebut. Juga yakin bahwa 'konflik' adalah bukan jati diri kita yang mengutamakan musyawarah untuk mufakat. Jadi siapa yang menjadi produsen konflik? pastinya nanti ada di Wikileaks, meskipun telat dan sudah basi.

Pyromania

Bukan hanya gunung yang bisa menyemburkan api, gedung-gedung, maupun rumah reyot pun tak kalah seksinya ketika menjadi aksi sasaran para hobyyist pyromania, mereka akan sangat senang membakar bahkan tanpa ijin yang punya. Pyromania seakan menjadi bukti betapa mahalnya harga kembang api seperti yang di luncurkan ketika pesta sea games ataupun tahun baru. Mereka akan selalu rindu dengan api. Pyromania (istilah saja di sini, bukan arti sebenarnya) akan sangat paham bagaimana menjadikan konflik menjadi uang, meski akan sangat bertentangan dengan nurani kemanusiaan. Namun trend bakar-membakar akan membuat para pyromania berpikir ketika hal tersebut mengenai dirinya sendiri.

Silat lidah

Saya cuplikan saja, berhubung lucu:

 

Kejadian tersebut bukan yang pertama diderita warga Syiah di Madura. Pada 18 Desember 2011, rumah Matsiri, seorang pengikut aliran Syiah di Desa Bluguran, Kecamatan Karang Penang, terbakar. Menurut kabar yang beredar, terbakarnya rumah Matsiri itu terjadi beberapa hari setelah tokoh syiah Sampang Ustad Tajul Muluk pulang ke pesantrennya di Dusun Nangkernang, Kecamatan Karang Gayam.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur Kiai Abdushomad Buchori menilai konflik antara Syiah dan Suni di Sampang Madura sangat sulit untuk didamaikan. Saat ini Sampang merupakan basis Suni militan yang sulit menerima adanya aliran Syiah di kawasan itu.

"Tidak mungkin didamaikan karena Syiah itu memang tak cocok kalau dikembangkan di Madura," kata Abdushomad kepada Tempo, Kamis, 29 Desember 2011. Ketidak cocokan inilah, yang menurut Abdushomad memicu adanya konflik berkepanjangan di antara Suni dan Syiah di Sampang.

MUSTHOFA BISRI| FATKHURROHMAN TAUFIQ 

Sumber : 

 

Ada ini juga;

TEMPO.CO, Sampang - Tokoh agama dari Nahdlatul Ulama Kecamatan Karang Gayam, Kabupaten Sampang, Jawa Timur, meminta polisi mengusut tuntas terbakarnya rumah Matsiri, seorang pengikut aliran Syiah di Desa Bluguran, Kecamatan Karang Penang. "Kami mendukung polisi agar menangkap siapa pun pelakunya. Supaya jelas, rumah itu terbakar sendiri atau dibakar," kata salah seorang tokoh NU, Ustad Roisul Hukama, kepada Tempo, Selasa, 20 Desember 2011.

Menurut Roisul, penyelidikan menyeluruh terhadap kasus kebakaran yang terjadi Minggu, 18 Desember 2011, sangat penting dilakukan. Sebab, selama ini jika ada masalah yang menimpa jemaah Syiah di Sampang, pasti selalu diidentikkan dengan warga NU.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Tempo, terbakarnya rumah Matsiri itu terjadi beberapa hari setelah tokoh Syiah Sampang, Ustad Tajul Muluk, pulang ke pesantrennya di Dusun Nangkernang, Kecamatan Karang Gayam.

Ustad Roisul mengatakan kepulangan diam-diam Tajul Muluk membuat warga Karang Gayam marah karena dianggap melanggar surat kesepakatan. Dalam surat kesepakatan itu disebutkan bahwa Ustad Tajul Muluk baru boleh kembali ke Sampang setelah setahun di pengasingan antara Surabaya dan Malang. "Warga merasa dibohongi karena belum setahun sudah pulang kembali," ujarnya.

Sumber :

Semoga, semua sadar dan cepat sembuh.

Atas