Persetan Neoliberalisme

 

Persetan Neoliberalisme

adalah hal terkeji untuk mengalahkan saingan dalam berkontes atau berkompetisi, namun adalah juga cara termudah karena budaya lisan yang masih berjalan dan jamak dipakai disini. Kadang orang hanya dengan "pasal jarene"(kabar angin, isyu, gosip, kabar manuk eh burung), sudah bisa diyakinkan dan berani bekoar-koar ke tetangga ataupun teman-temannya tentang suatu kebenaran tentang si fulan. Begitulah jamaknya, mungkinkah ini adalah peninggalan jaman penjajahan, peninggalan jaman kegelapan, peninggalan jaman kerajaan ataukah peninggalan komunisme, atau pula peninggalan sistem pendidikan dan sistem penakut-nakutan pada jaman orde baru. Entah juga karena asupan nutrisi seadanya yang mengerak di otak-otak para pembaca koran atau radio atau penonton televisi ataukah karena pelajaran metodologi penelitian yang hanya mengerak menjadi pemutih gigi yang kemudian menjadi kuning dan menjadi ompong.

Untunglah pengaruh HAM - hak-hak asasi manusia cukup agak berwibawa juga sehingga hanya terjadi pembunuhan karakter bukan pembunuhan sebenarnya, masih sekedar pentung-pentungan, penggeropyokan atas nama massa atau kerennya warga setempat, penggusuran bangunan, sehingga kasus satpol PP yang membuang seorang perempuan ke sungai itu hanya terjadi sesekali, hehe... tidak berulang kali, atau kasus video 3gp tentang polisi yang melecehkan atau mungkin malah heran melihat payudara cewek sehingga meraba-raba dan disimpan serta diarsipkan menjadi arsip audio visual yang memukau banyak orang sehingga harus melihat dengan cermat apakah itu polisi, apakah itu payudara beneran, apakah itu cewek beneran, ataukah hanya boneka, semua orang jadi pengin tahu dan berlagak menjadi seorang ahli telematika, ya, seorang ahli telematika yang bisa membedakan gambar ini betul si fulan atau bukan, sehingga dengan predikatnya itu dia tidak usah kemana-mana surfing di internet untuk mendownloadnya tapi sudah diantarkan failnya, bwahaha.... namun sekarang semuanya menjadi penyesalan yang tidak berguna dan semoga hukum bisa berbuat seadil-adilnya, dan anehnya kasus pak mantan ketua komisi pemberantasan korupsi itu ketika ada kasus dengan seorang caddy tidak digolongkan menjadi pelecehan seksual, entahlah karena mungkin tidak ada video3gpnya yang bisa didownload sehingga harus melibatkan banyak mata dan polisi untuk mencermatinya.

Namun itulah mengapa kita bisa menjadi bangsa yang besar, karena segala sesuatunya bisa dipertanyakan dan dijungkirbalikkan disini. Bangsa besar yang tidak mudah percaya, tidak mudah percaya atas ideologi tertentu, bahkan dasar negara pun selalu didiskusikan dan dipertanyakan, baik secara konsep maupun dalam pelaksanaannya, memang aneh satu sisi menjalani budaya lisan dan sisi lain selalu bertanya dan bahkan tidak mudah percaya. Tentang Neoliberalisme misalnya kita juga tidak pernah percaya seratus persen meskipun juga tidak pernah mengkaji dan melaksanakannya dengan ikhlas dan sungguh-sungguh, meskipun bangsa eropa barat dan amerika sendiri sukses sebagai penelor sekaligus pelaksananya. Demikian pula tentang ideologi komunisme yang sudah di babat habis, dan hanya melongo saja melihat negeri china yang masih eksis dalam menguasai dunia dengan gadget-gadgetnya yang murah meriah, serta dimana-mana mungkin menjadi pilihan untuk digunakan karena murah dan berfitur tidak kalah dengan yang mahal, dan asli bikinan dari orang-orang daerah neoliberalisme. Atau juga agama yang mayoritas dianut inipun selalu kalah dan menjadi barang hinaan ketika adanya pesta demokrasi, dikiranya politik pengajiankah dan lain-lain, entahlah memang kita ini adalah para pemikir sekaligus tidak mudah percaya sekaligus menganut faham-faham terntentu. Serta aneh sekali ketika jaman nasakom, bung Karno selalu berpidato dan menentang NEKOLIM - neo kolonialisme dan neoliberalisme - sebenarnya sudah disadari juga sejak dulu, tapi juga hancur dengan pesanan dari neoliberalisme, neokolonialisme dan neokapitalisme sendiri. Wah wah wah....

Memang patut untuk dibanggakan bahwa kita adalah bangsa yang besar, tidak mudah percaya, berpengalaman dalam pengaruh isme-isme itu, cerdas berkilah, cerdas dalam mengakali hukum, cerdas dan terampil dalam saling menjatuhkan, bagaikan arena sabung ayam yang keren dan dahsyat, namun akhirnya dilarang, berani bertindak cerdas dalam menilai tehnologi baru dan membelinya, berani menolak kegiatan kopi paste artikel namun masih memakai barang bajakan, betul-betul saya suka sekali dalam suasana hati yang sebenarnya, betapa kita adalah kita, seonggok daging bernyawa yang selalu dinamis dalam tindakan dan pemikiran. Tulus berkarya, tulus dan ikhlas dalam keombang-ambingannya... yah sebuah oase pembelajaran yang tidak pernah kering, selalu bergolak bagai gunung merapi maupun gunung yang aktif lainnya, indah dalam keterasingannya sendiri, negeri yang indah sekali... dan saya bangga berada di dalamnya... serta menyaksikan kehadalan dalam segala macam corak pemikiran dan perilakunya...

Atas