menggauli kehancuran

 

menggauli kehancuran

Apalah kemudian yang dimiliki seorang insan, mahluk tuhan yang melemah, dalam kehendak perjalanan dan kesempurnaan tertingginya yang telah hancur. Adalah sebuah keinginan untuk menyempurnakan perjalanan yang ditempuh menjadi adreaniln yang mengalir di otaknya, otak yang rapuh tiada lagi melihat penerang dunia kehidupan maupun tujuan yang sedikit demi sedikit merapuh digerogoti usia serta pengharapan yang tiada kunjung menjadi material keinginan nyatanya. Meski dengan menangis sambil memohonpun tidak menjadi jaminan bahwa ketersiksaannya bisa berakhir, endapan demi endapan kekecewaan atas apa yang diyakininya benar telah menjadi bom yang setiap saat dapat membawanya ke kehancuran, hanya sisa-sisa ruang terhormat dihatinya dapat membantunya hancur dalam kehormatan, melanjutkan kehidupan dalam kehancuran ataupun membangun gedung kehancuran yang indah hingga dia bisa berdecak mengagumi akan kehancurannya sendiri.

Bahwa proklamasinya untuk menjadi seorang anarkhis ternyata sudah hancur karena panah yang dilemparkannya sendiri membawa seluruh jiwa, bahwa kemudian anarkhismenya seakan tak memiliki lagi tempat di otak maupun hatinya, ataukah anarkhismenya ikut terbawa dalam perjalanan anak panah terakhirnya yang hilang menembus ruang-ruang harapannya, ikut musnah dan tak tersisa lagi butiran-butiran cahaya yang selalu saja ditangisinya tiap malam sambil menyalahkan kehidupan dan perjalanannya sendiri yang diniati dengan tulus untuk kebaikan namun hanya menghasilkan hantaman keras dan hunjaman kekecewaan tanpa akhir yang mungkin tidak akan bisa diperbaikinya seperti semula, duhai pemilik kehidupan tolonglah dia.

Menggauli kehancuran menjadi kesehariannya, meski masih tersisa beberapa mikron kewarasan, namun sebagaimana dia dilahirkan sebagai seorang kesatria, melihatnyapun hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengetahuinya. Kehidupannya memang selalu tertutup rapat namun penuh cahaya kejujuran dan tanpa setetespun hasrat egoisme yang pernah diembannya. Dia pernah berkata bahwa hidupnya adalah untuk kehidupan itu sendiri, namun bencana hilangnya butiran cahaya dan warna kehidupannya sangat terasa betul dia berusaha untuk menyembunyikan sambil menata dan membangun monumen kehancurannya dalam keindahan, dia bangga pada kehancurannya tersebut, dan itulah modal awal untuknya agar bisa berakrab-akrab dengan kehancuran sebagaimana yang pernah dia lihat pada orang-orang yang ditemaninya.

Sangat indah sekali terlihat ketika malam hari ketika dia sedang berasyik masyuk menggauli kehancurannya sendiri, butiran-butiran intan air mata yang memburai dilepasnya dengan senyum khasnya, tak pernah dia bersuara maupun menunduk terlalu dalam, bahkan dia menikmatinya sambil menghirup nafas dalam-dalam asap yang keluar dari jisamsu kesayangannya tersebut. Di sudut-sudut gelap di luar rumahnya, ataupun dimanapun dia berada selalu menjadi saksi saat dia mencoba mengistirahatkan sebentar kewarasannya agar bisa dipakai esok hari kemudian. Bagai seorang samurai yang sudah tidak memiliki pedang kesayangan, maupun baju baja kebanggaannya dia masih mencoba untuk bertahan dalam ruang-ruang kekalahannya dan masih belum ingin menjadi seorang ronin, yang orphan tanpa jiwa kebesaran dan kehormatan untuk menghabiskan sisa-sisa waktu kehidupannya.

Dari kerling matanya yang bisasanya terlihat bercahaya dan agak nakal tersebut sudah hilang sama sekali redup, meski kering namun masih memiliki sebuah harap yang diimajinasikannya sendiri yaitu kembalinya sang semangat untuk merasukkan dirinya dan mengubah kehidupannya untuk melompat lebih jauh meniti jalan yang terang sesuai dengan keinginan terdalam hatinya, dengan syarat dia tak mau menjalaninya sendiri, betapa butiran cahaya dan warna kehidupannya menjadi syarat baginya untuk meniti kemenangan demi kemenangan. Betapa dia sudah pernah bersumpah untuk menyelesaikan kehidupan dengan terhormat, meski harus pulang keharibaannya dalam keadaan sendiri tanpa ada yang pernah mendoakannya, ah ternyata dia sudah menyiapkannya dan yakin sekali dia sudah lebih dari cukup jika hanya untuk hal tersebut. Lorong-lorong paling rahasia bahkan puncak-puncak kerahasiaan sudah dienyamnya dengan berhasil meski tidak dengan mudah, betapa tak ada lagi hal yang harus dipertimbangkannya untuk segera mengakhiri deritanya daripada menggauli kehancuran yang sama sekali belum pernah tersirat dalam imajinasinya sendiri.

Kemungkinan untuk mengakhiri penderitaannya dengan membinasakan dirinya sediri, sangat jauh pasti dari pikirannya. Kuyakin sepenuhnya dengan menggauli kehancurannya dia akan menemukan makna-makna baru dalam kehancuran itu sendiri, betapa dia sangat merawat kehancurannya dengan kasih sayang yang sangat terlihat tidak dipaksakan dan dihayati sepenuhnya. Dasar wong edan kata saya, yang paling menakutkan adalah jika dan hanya jika penyebab kehancurannya berkhianat dan berusaha untuk lebih menghancurkannya dengan alasan yang tidak jelas dan diterima akalnya, maka episode menggauli kehancuran inipun pasti akan segera berakhir sebab pasti dengan kelihaiannya akan menhancurluluhkan apa yang disayangi dan sedang dirawatnya. Tak terperikan dengan kemampuan dan ketabahannya pastilah dia akan membersihkan puing-puing yang sudah tak mungkin dirawat dan disayanginya lagi, secara sangat halus, tak berkata tak bersuara dan tak berampun tanpa pernah disadari oleh siapapun juga, wallahualam.  Pasti dan sangat pasti karena dengan mudahnya dia akan menciptakan sendiri semangat dan butiran warna kehidupannya sendiri sebagai bukti kehormatan dirinya. Serta akan melangkah lagi melanglang buana dengan cahaya dan warna kehidupan ciptaannya sendiri seperti yang sebagaimana kubanggakan kepadanya. Kadang tak sabar dan marah rasanya menunggunya menggauli kehancuran itu, betapa dia lebih gagah dan sangat terhormat menjadi apa adanya berada dalam deretan para raja diiringi naga-naga dibelakangnya yang mengawalnya dengan menundukkan kebuasan dan keberingasannya, hanya waktu yang mengetahuinya, dan dari sorot mata serta lembutnya dia merawat runtuhan kehancuran itu terlihat kesetiaan tak terperikan nan teramat dalam dan berakar, selamat menggauli kehancuranmu wahai sang dewa ular penjaga kebaikan., doaku bersamamu.

 

081109, sanapic

Atas