Copras Capres ala Jayabaya & Ronggowarsito

 

Copras Capres ala Jayabaya & Ronggowarsito

Entah mengapa orang berkata copras capres, mungkin karena saking bisingnya suasana di wall Facebooknya atau time line Twitternya. Atau karena saking pusingnya melihat hal-hal omongan pendukung masing-masing capres yang sudah jauh dari rasional eh bukan, logika tepatnya karena cenderung ke fanatisme, atau manipulatif dalam menyajikan data untuk memenangkan hati mendapatkan suara bagi capres tertentu.
 
 
Menarik apa yang dikatakan Joko Pekik, ketika hari minggu tanggal 15 Juni 2014 di Yogyakarta, pada acara melukis bareng untuk mendukung Jokowi - JK, dengan tajuk Mas Rejo, yang kepanjangannya adalah Masyarakat Remen (suka) Jokowi. Joko Pekik adalah seniman perupa yang melukis Babi Hutan, pada saat itu yang terjual mahal dan lukisan itu adalah kritik terhadap Soeharto, penguasa Orde Baru. 
 
 
Joko Pekik, mengatakan:
 

"Kalau yang menang itu jelas Jokowi, sejak awal dukungan yang datang pada Jokowi sudah luar biasa".

"Satu-satunya pemenang itu Jokowi, Prabowo cuma untuk mengimbangi aja, seperti orang lelang, harus ada yang mengimbangi".

"Jokowi itu sosok sederhana dan mau mendengarkan masyarakat kecil, pemimpin yang seperti itulah yang kita butuhkan".

"Silakan saja ditafsirkan sendiri apa maknanya".

 

Negeri Begajul sedang berusaha untuk berubah menjadi negeri yang bijaksana. Para begajul tentunya mencoba untuk tidak mengubah tatanan yang sudah porak-poranda. Naiknya pajak dan harga BBM sudah terlanjur tak bisa dihindari karena sudah dimalingnya kekayaan negara, baik sumberdaya alam ataupun yang sudah menjadi uang. Pemotongan dan lenyapnya uang negara dalam hal ekspor impor karena pengawasan dan hitungan akuntasi sulapan tingkat tinggi.

 

Kesejahteraan secara global tentunya masih mimpi panjang. Dua Calon Presiden copras-capres semuanya masih menekankan untuk bekerja, bekerja, bekerja dan bekerja. Bekerja untuk apa, untuk menghasilkan uang dan kemudian membayar pajak, ah... tentunya ini masalah logika bahwa sebenarnya pekerjaan adalah untuk memperpanjang umur karena otak yang tidak menganggur dan ada aktifitas badaniyah untuk menyehatkan raga. 

 

Menilik dari , seorang maharaja besar di abad-abad lalu, penerus Prabu Airlangga, seorang raja yang pertama kali menggunakan nama maskapai penerbangan dan seorang penguping pembicaraan yaitu Ronggowarsito yang menuliskan detail ramalan Jayabaya bahwa NOTONAGORO adalah bukan hanya sekedar nama pemimpin yang berakhiran No, to, na, go, dan ro, namun lebih detil lagi bahwa ini adalah era kepemimpinan.

 

Era kepemimpinan bisa jadi memiliki jenis pemimpin yang sama seperti ketika era Megawati dan SBY, keduanya memiliki tipe yang sama dalam latar belakangnya yaitu karena nama besar orang tua, orang tua bisa jadi adalah orangtuanya sendiri ataupun mertuanya, atau kedekatan yang lain. Era kepemimpinan ini bisa jadi panjang atau pendek, tergantung pada figur pemimpin tersebut, apakah sesuai dengan kehendak rakyat atau bukan, memuaskan atau tidak dan juga pergolakan politik yang ada pada saat itu. Dan tentu saja karena urut-urutan NOTONAGORO sudah batal dan terlewati.

 

Ketujuh era kepemimpinan negeri begajul tersebut yang diungkapkan JayaBaya dan Ronggo Warsito selain NOTONAGORO adalah era kepemimpinan Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro, Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar, Satrio Jinumput Sumelo Atur, Satrio Lelono Topo Ngrame, Satrio Piningit Hamong Tuwuh, Satrio Boyong Pambukaning Gapuro, dan Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu. Ketujuh era tersebut belum rampung dan terlampaui hingga masuk masa zaman Jayabaya yaitu masa keemasan bangsa negeri begajul menjadi negeri yang ambeg paramarta, gemah ripah loh jinawi, rakyat makmur sejahtera dan gotong royong menjadi hal yang sangat ringan.

 

Tujuh tokoh menurut Jayabaya dan Rronggowarsito sebenarnya adalah 7 era atau masa kepemmimpinan, (di Joyoboyo dan Ronggowrsito itu tujuh orang, di aku itu 7 masa) masa tersebut adalah era Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro, Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar, Satrio Jinumput Sumelo Atur, Satrio Lelono Topo Ngrame, Satrio Piningit Hamong Tuwuh, Satrio Boyong Pambukaning Gapuro, dan Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu.

 

  1. Era Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro. Adalah ksatria yang dipenjara, semasa mudanya sering dibuang dan dipenjara (Kinunjoro) dan kemudian pemimpin ini menjadi tokoh besar yang terkenal sampai ke seluruh dunia (Murwo Kuncoro). Tokoh tersebut ditafsirkan sebagai Soekarno, Proklamator dan Presiden Pertama.
  2. Masa Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar. Sebagaimana namanya 'Soeharto' orang yang berharta. Ksatria pemimpin ini sangat kaya secara duniawi (Mukti), berwibawa dan ditakuti (Wibowo). Namun ksatria ini dekat dan lekat dengan segala kesalahan dan bernasib buruk (Kesandung Kesampar). Karena cara-caranya menggaet kekuasaan dengan melalui pengorbanan rakyat tak bersalah yang jumlahnya hingga ratusan ribu bahkan jutaan nyawa. Ksatria ini ditafsirkan sebagai Soeharto, Presiden kedua RI dan pemimpin Rezim Orba yang sangat ditakuti namun kaya raya.
  3. Era Satrio Jinumput Sumelo Atur. Ksatria atau tokoh pemimpin yang diangkat (Jinumput) sebagai selingan perubahan setelah satria yang Kesandung Kesampar dapat dijatuhkan oleh keadaan (Sumela Atur). Orang ini ditafsirkan sebagai BJ Habibie Presiden Ketiga. Berkuasa hanya satu tahun (Sumela atur).
  4. Masa Satrio Lelono Topo Ngrame. Tokoh pemimpin yang dahulunya atau memiliki latar belakang suka mengembara atau keliling dunia (Lelono) dan memiliki jiwa kontroversial dengan melakukan dakwah atau laku prihatin secara partisipatif dalam banyak keadaan (Tapa Ngrame). Era ini dilambangkan dengan naiknya KH. Abdurrahman Wahid, sebagai Presiden yang Keempat.
  5. Era Satrio Piningit Hamong Tuwuh, yaitu tokoh pemimpin yang muncul karena jasa-jasa orangtuanya atau membawa kharisma leluhurnya (Hamong Tuwuh). Sosok ksatria ini digambarkan sebagai Megawati Soekarnoputri yang merupakan anak Soekarno, Presiden Kelima. Susilo Bambang Yudhoyono atas jasa-jasa dan nama besar mertuanya. Jika setelah ini bapak Prabowo Subianto menjabat karena menang Pilpres maka era ini diperpanjang karena PS memiliki orang tua yang berkharisma di bidang ekonomi bahkan memiliki sebutan sebagai Begawan Ekonomi Indonesia dan menantu dari Presiden yang Kedua, Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar. Jika yang menjadi presiden nanti adalah pak Jokowi maka akan berpindah ke era selanjutnya, yaitu Satrio Boyong Pambukaning Gapuro.
  6. Masa Satrio Boyong Pambukaning Gapuro. Adalah era ketika negeri ini dipimpin oleh seorang ksatria atau tokoh yang berpindah-pindah tempat kekuasaan dan rumahnya untuk membuka hal baru dengan inovasi atau apa. Dengan kata lain ini adalah the Rising Star yang sesungguhnya, boyongan dari sana kesini dan kesini kesana, bukan seperti tentara yang tugas ke sana kemari namun karena dinamika perjalanan karirnya yang melonjak.
  7. Era selanjutnya adalah Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu. Yaitu masa dimana negeri ini dipimpin oleh seorang tokoh atau Ksatria yang memiliki penampilan atau latar belakang keagamaan (Pinandito) dan memiliki wahyu yang bisa digambarkan sebagai wahyu kekuasaan (jika raja) ataupun wahyu yang lain seperti inovasi atau penemuan tertentu, atau bisa juga hal lain yang berdekatan dengan wahyu-wahyu ketuhanan. Para pembisik yang dahulunya mencalonkan Sri Sultan untuk maju menjadi Presiden mungkin berpegangan pada hal ini karena seorang Sultan pastinya adalah seorang Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu.

 

Setelah melihat hal diatas entah nanti yang akan jadi Presiden ke tujuh Negeri begajul siapa, masih aman karena negeri ini masih memiliki masa depan meskipun dalam hal ramalan saja. Mau percaya atau tidak 'is sekarepmu' dan lebih baik lakukan riset untuk mau percaya atau tidak. Dan melihat debat semalam tentunya terlihat mana yang pintar, obyektif dan mampu mengendalikan negeri begajul dengan benar, tidak kasar dan bergaya ksatria terhormat. Siapapun dia penentunya adalah kita, para pencoblos dan semoga sampai tanggal 9 Juli 2014 nanti masih memiliki keyakinan untuk dan tidak melakukan Golput.

 

Meskipun debat copras capres yang menarik namun kurang panas dan membuat deg-degan sepertinya debat semalam sudah bisa menunjukkan mana yang unggul seperti yang diberitakan dari salah satu kubu, sementara kubu yang lainnya sangat kasihan dan terlalu capek deh.

 

Ini dari Tribunnews:

 

Kubu calon presiden nomor urut 2, Joko Widodo alias Jokowi mengklaim memenangi seluruh babak dalam debat calon presiden (capres) kedua, Minggu (15/6/2014) malam.

Kubu capres yang berpasangan dengan Jusuf Kalla itu mengaku menguasai lima babak dalam debat bertema pembangunan ekonomi dan kesejahteraan sosial yang digelar di Hotel Grand Melia, tadi malam.

Menurut Juru Bicara Tim Pemenangan Jokowi-JK, Hasto Kristiyanto, pertanyaan Jokowi ke Prabowo tentang tim pengendalian inflasi daerah (TPID) menjadi kunci kemenangan dalam debat itu.

Sebab, kata Hasto, Prabowo yang disebut-sebut menguasai persoalan ekonomi ternyata tidak tahu singkatan TPID. “Itu gol pertama,” kata Hasto di Jakarta, Senin (16/6) dini hari.

Yang kedua, kata Hasto, ketika Prabowo justru mengaku tak percaya dengan penasihatnya saat debat. “Ketika Pak Prabowo bilang tidak percaya dengan tim penasihatnya, itu gol kedua,” sambung Hasto.

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu menambahkan, Prabowo seolah membuat gol bunuh diri ketika mengaku bukan politisi profesional. “Itu gol ketiganya,” ucap Hasto, tim sukses Jokowi-JK ini.

Gol keempat adalah ketika Prabowo mengaku mendukung ide ekonomi kreatif yang disodorkan Jokowo. “Gol kelimanya ketika Pak Prabowo mengakui ide Jokowi yang harus didukung dan lantas mendekat untuk bersalaman,” ucap Hasto.

Ditambahkannya, Prabowo terjebak pada angka-angka termasuk soal pentingnya uang untuk pembiayaan program.

Solusi yang ditawarkan Prabowo adalah menutupi biaya kesejahteraan rakyat dari kebocoran keuangan negara, termasuk dari hasil pertambangan.

Namun, Hasto menilai solusi yang ditawarkan Prabowo itu justru memukul diri sendiri. Sebab, tudingan tentang kebocoran keuangan negara berarti mengarah pada Hatta Rajasa, pendamping Prabowo di pemilu presiden (pilpres).

“Kebocoran anggaran negara banyak terjadi justru di bawah otoritas Menko Perekonomian yang selama 4,5 tahun dipegang Hatta yang sekarang jadi cawapres Pak Prabowo,” ucap Hasto.

Sementara Jokowi, lanjut Hasto, memilih mengedepankan konsep ekonomi berdikari dengan rakyat sebagai aktor kunci. Untuk itu, kata Hasto, Jokowi menempatkan pendidikan sebagai cikal bakal peningkatan kemampuan rakyat berproduksi.

“Jokowi juga menekankan bagaimana negara harus hadir untuk memfasilitasi pelaku ekonomi kerakyatan. Ternyata hal ini diamini oleh Prabowo dengan pujian ke Jokowi. Dukungan Prabowo ini membuktikan bahwa alam bawah sadar Prabowo membuktikan kepemimpinan Jokowi yang merakyat,” pungkas Hasto.

Atas