lobang kenikmatan

 

lobang kenikmatan

Benarkah menduduki kursi penguasa nomor satu itu memberikan kenikmatan, karena melihat penampilan pemimpin nomor satu saat ini yang semakin kelihatan kuyu, dengan kulit bawah mata yang semakin menebal. Ataukah hanya sekedar kenikmatan semu yaitu menjadi penguasa dihormati disana dan disini. Entah apa nikmatnya jika melihatnya pun kita gak pernah menemukan sebuah senyuman yang segar, sinar mata yang cerah dan omongan atau pidato yang membahagiakan.

Mungkin masa ini adalah masa yang berat dimana harus berhitung untuk memenangkan kursi dan lobang kenikmatan pertiwi itu kembali, ego kekuasaan semoga tidak terlalu memadati atmosfir persaingan ini. Hanya itulah harapan sebagai jelata yang selalu saja menjadi korban kebijakan yang sama sekali hanya sebuah istilah semata. Sangat menderita dan seperti keberatan beban bapak penguasa itu saat ini, entah dia memiliki target apa untuk hari depan bangsa yang besar dan lebar ini. Banyak sekali trik cantik sudah dikeluarkan dan menunggu trik-trik selanjutnya yang semoga juga tidak merugikan para jelata saat ini maupun di masa datang.

Begitupun para calon pesaing yang masih talik ulur dan kesana-kemari rapat seperti seterika, persis seperti menghadapi perang saja, serta kekuatiran golput yang sudah pada tingkat kompulsif yang diluar nalar. Namun belum juga ada yang menghitung berapa kenaikan hutang negeri begajul saat ini yang sudah menginjak sekitar 30 persenan, mengerikan sekali, siapa yang mau membayarkannya, atau nanti ganti akta perusahaan negeri begajul menjadi perusahaan negeri begajulan saja... biar yang nagih utang kehilangan alamat (lmao).

Heran sekali mengapa di sebuah negeri yang sudah memiliki utang trilyunan dollar itu masih saja lobang kenikmatan kekuasaannya diperebutkan, demi segala alasan mencari uang atau laba saya pikir juga aneh sekali. Semoga pada kampanyenya mereka menemukan katakunci yang bisa menghibur dan memberikan rasa aman, bahwa negeri itu masih berdaulat tanpa ada campurtangan dari dunia lain yang berdiri dibelakang layar untuk sekedar memperkosa pertiwi melalui sebuah lobang kecil kursi kekuasaannya.

Hampir ketemu memang link dan match nya pendidikan jaman dahulu, yaitu bahwa para jelata disana di negeri begajul itu adalah sebuah asset saja, asset untuk memperkaya bukan seonggok daging bernama manusia yang memiliki harga diri, martabat dengan sekarung hak yang harus dipenuhi oleh administrasi negara. Jargon stabilitas sudah akan muncul kembali untuk memperkosa hak yang harus dipenuhi, tentunya dengan nuansa stabilitas yang lebih luas dan memberikan angin segar bagi investasi karena memang hanya di negeri begajullah investasi masih layak dilakukan, tanpa harus mengekspor ke luar, di dalam pun sudah laris dengan ratusan juta yang memerlukannya. Tenaga kerja yang murah dan butuh hidup, yah para jelata di negeri begajul memang sudah jatuh ketimpa tangga.... mungkin inilah sebuah lobang kenikmatan yang tiada tara dan sangat mudah untuk pencapaian orgasme, meskipun sebuah orgasme yang datar-datar saja....

Atas