minum kursi

 
kursi tapi bukan yang ini
 

minum kursi

Kursi biasanya adalah tempat duduk, namun bukan kedudukan. Beda juga dengan penduduk yang sebenarnya tidak hanya duduk, namun juga jumpalitan mencari makan di tempat kedudukannya. Kadang juga penduduk tidak mencar nafkah di tempat kedudukannya, namun berada jauh dari asal kedudukannya sebagai penduduk. Menjadi pendatang di tempat lain untuk bekerja dan mencari nafkah, ketika lelah dan mungkin mendapat peruntungan, biasanya juga orang-orang itu berpindah kependudukan, menjadi penduduk ditempatnya bekerja dan berkedudukan menetap. Tapi biasanya mereka tetap duduk di kursi.

Kursi memang ada juga hubungannya dengan penduduk, bahkan jumlah penduduk. Hal ini dikaitkan dengan konteks politik, yang beberapa saat lagi akan cukup ramai dan mungkin panas bagi penduduk yang inginnya hidup tenang-tenang. Kursi ini bukan sembarang kursi karena hanya ditaruh di sebuah lokasi yang bernama gedung dewan. Dewan Perwakilan Rakyat yang ada dari tingkat Kota/Kabupaten, Propinsi dan yang lebih nyaman lagi katanya di tingkat Pusat, selain Dewan yang lain yaitu Perwakilan Daerah.

Kursi ini kadang menjadi impian yang sangat diidam-idamkan oleh orang yang memiliki bakat untuk menjadi wakil rakyat, dimana kursi tersebut diduduki untuk bekerja memikirkan kemaslahatan masyarakat sesuai SOTKnya sebagai anggota Dewan. ada berbagai cara untuk dapat menduduki kursi tesebut untuk Perwakilan Daerah memang dari individu yang mencalonkan dirinya, dan lewat partai Politik bagi mencalonkan dirinya sebagai anggota Dewan. Jadi memang harus melalui Partai Politik, yang kemudian dalam Partai itupun orang yang berhasil menjadi calon yang terdaftar di KPU menjadi Calon yang sudah tetap mendapatkan nomer urut. Nah model nomer urut inilah yang menentukan jumlah perolehan dari penduduk yang mendapatkan kartu untuk ikut pemilihan umum sebagai ajang tempur mendapatkan kursi dewan.

Mengapa harus bertempur dan bersaing untuk mendapatkan kursi? tentu jawabannya sederhana karena jumlah kursi yang terbatas. Dan memang harus dibatasi sesuai rasio jumlah penduduk yang menentukan jumlah kursi dewan perwakilan dari daerah tingkat 2 hingga pusat. Dari setelah mendapatkan suara dukungan dari masyarakat atau penduduk, hingga apa fasilitasnya adalah hal yang tidak terlalu istimewa sebenarnya. Namun apa misi yang dibawa kursi itulah yang biasanya terlupakan. Karena kursi tersebut seharusnya sangat panas, sakti dan memiliki daya lontar sebab siapapun yang duduk di kursi itu jika tidak serius mengerjakan sifat dan tugas bawaan adanya kursi tersebut maka seharusnya ada karma yang sangat tegas dan menegerikan. Seharusnya, dan tahayulnya sih begitu.

Siapa yang seharusnya menjaga marwah kursi tersebut tentu saja sudah banyak orang yang tahu dan menjadi pemahaman dasar bagi penduduk yang akan memberikan suara di sebuah tempat bernama TPS pada saatnya di tahun depan. Terkadang hal ini penting, namun menjadi hal yang terlupakan karena kebiasaan dan kesulitan kehidupan yang melenakan. Bahkan acapkali memang tidak pernah dipahamkan meski fase reformasi 98 sudah berjalan 20 tahun, namun perbaikan yang nyata dalam perpolitikan menjadi impian yang terbang semakin jauh.

Kursi empuk DPR memang terlihat nyaman, sehingga banyak orang yang memimpikan mendudukinya. Dengan berbagai cara mereka berbondong berusaha mendudukinya. Ada yang berhasil namun tidak sedikit yang gagal. Banyak cerita tentang kegagalan dalam upaya mencapai kursi tersebut. Membuahkan permasalahan pribadi yang berat, namun tidak sedikit juga yang sportif dan mengakui kegagalannya dan akan di coba lagi pada 5 tahun yang akan datang.

Hanya dimana sebenarnya kesaktian kursi tersebut agar hanya bisa diduduki oleh orang-orang pilihan yang memikirkan perbaikan nasib masyarakat, bukan sebaliknya.

Atas