minum bahaya laten

pancasila
 

minum bahaya laten

Orde Baru mengenalkan istilah bahaya laten. Bahaya laten pada saat Orde Baru jelas adalah musuhnya, atau halangan yang dihabisinya untuk berkuasa yaitu PKI atau Komunis. Rejim itupun hancur dengan gerakan massal reformasi yang muncul karena kebiadaban-kebiadaban yang dilakukan Orde Baru. Orde Baru jika tidak terlalu korup sebenarnya bisa membangun negeri ini dengan super bagus, karena pintu kran utang luar negeri yang dibukanya. Memang banyak monumen yang dibuatnya seperti waduk-waduk untuk membangun irigasi pertanian dan sebagainya, namun hanya dilakukan sebagian, karena sebenarnya dia bisa banyak sekali melakukan pembangunan yang tentunya tidak perlu dikebut oleh Jokowi pada sekarang ini.

Banyak hal yang tercipta selama itu, selain yang terbesar adalah istilah bahaya laten komunisme dan perusakan pengetahuan tentang Pancasila yang sungguh merepotkan bagi generasi-generasi produk orba. Selaint tidak jelas apa itu Pancasila yang digaungkan orde baru, praktik Pancasila yang baik seperti apakah yang didapatkan dari Orde Baru. Jelas untuk posisi seperti ini generasi Orde Lama yang berada di bawah pimpinan Soekarno memiliki kelebihan yang sungguh banyak tentang pemahaman apa itu Pancasila. Sungguh Pancasila yang ideologi Sapu Jagad menjadi sebuah pencarian makna baru bagi generasi muda saat ini. Tarik menarik dua Orde tersebut benar-benar membuat banyak pertanyaan besar yang tidak pernah dijawab oleh Reformasi yang semakin asing namanya.

Meski di saat yang lampau Pancasila memilki musuh laten baik dari golongan kiri maupun kanan, neo liberalisme, neo kolonialisme, neo terorisme maupun lain-lainnya. Saat inipun memiliki musuh atau bahaya laten yang sama dari gerakan internasional yang mencoba masuk dan merongrong Pancasila baik melalui ideologi agama maupun ideologi lainnya yang mengandung unsur radikalisme, intoleransi dan penggunakan kapital untuk merusak generasi hingga penggunaan narkoba, penyalahgunaan kekuasaan (kroupsi) dan sebagainya.

Efek dari tarik ulur Orde Lama dan Orde Baru, atau lebih tepatnya jika Orde Baru adalah yang berkontribusi adalah pada rasa kepercayaan diri masyarakat kepada pemerintah dan Pancasila. Percaya diri tersebut muncul dari keyakinan. Keyakinan yang dimasuki oleh kenikmatan lain, sehingga membuat kehadiran Pancasila menjadi tidak seksi atau mencuri pandang. Praktik korup pemerintah menjauhkan atau membuat rongrongan terhadap Pancasila, menjadikan ideologi lain yang bertentangan lebih mudah masuk dan berkembang. Betapa menyedihkannya banyak pidato dan dakwah yang menginginkan adanya negara dengan dasar negara agama. Menumbuhkan wajah-wajah baru ulama yang berperangai seperti serigala, haus darah, haus kekuasaan, tidak punya malu dan menentang Pancasila. Bahaya laten perongrong Pancasila mulai muncul lagi, setelah dahulu di masa awal kemerdekaan banyak juga rongrongan untuk membuat negara Islam, saat inipun muncul lagi, sungguh bahaya super laten.

Politik Jenazah yang dipraktikan pada Pilkada 2017 kemarin adalah bukti, dan pertanyaan super keras tentang bagaimana masyarakat lebih terpengaruh pada hal praktis dan lupa bahwa dasar negara kita adalah Pancasila. Kode keras untuk para pendidik bangsa dan intelektual yang lebih menerangkan Pancasila secara filsafat, dan keilmuan namun lupa mempraktikannya pada lingkungan sehingga banyak orang tidak percaya diri ketika dihadapkan pada kata-kata dan tuduhan kafir, neraka dan sebagainya, karena landasan beragama yang tidak dalam, tidak memahami Pancasila, atau lebih tepatnya tidak mau belajar untuk lebih cerdas.