Sya'ban, Nisfu Sya'ban, Ruwah, Nyadran

 

Sya'ban, Nisfu Sya'ban, Ruwah, Nyadran

Keutamaan bulan Sya'ban sudah beredar di mana-mana, dan menjadi pengetahuan umum bagi yang mau mencarinya. Sebagaimana bulan-bulan yang lain selalu saja memiliki keutamaan tertentu. Artinya adalah bahwa tidak ada salahnya melakukan ibadah setiap saat di bulan apa maupun di hari apa karena semua pasti memiliki keutamaan. Bulan Sya'ban adalah bulan kedelapan dalam kalender hijrah. Memiliki arti pemisahan karena orang-orang arab jaman dulu yang masih pagan pada bulan ini berpencar dan berpisah untuk mencari air.

Sementara orang Jawa dalam kalendernya menyebut bulan ini sebagai bulan Ruwah yang berasal dari kata Arwah. Hanya keutamaan yang spesifiklah yang dicari untuk membedakan nama bulan dan hari serta untuk memperingati peristiwa tertentu, namun apakah itu harus menjadi motivasi untuk beribadah? itupun tidak ada yang patut di perbincangkan dan dipermasalahkan kecuali hanya untuk menambah khusuk dan keikhlasan melakukan ritual ibadah saja yang berlandaskan keyakinan dan kerelaan untuk mengorbankan dan membunuh waktu menjadi hal 'lain' yang dianggap 'bermanfaat'.

Sesungguhnya Allah 'Azza Wajalla turun ke langit dunia pada malam nisfu sya'ban dan mengampuni lebih banyak dari jumlah bulu pada kambing Bani Kalb (salah satu kabilah yang punya banyak kambing). (HR At-Tabarani dan Ahmad)

Ali bin Abi Thalib, Rasululah SAW bersabda, "Bila datang malam nisfu sya'ban, maka bangunlah pada malamnya dan berpuasalah siangnya. Sesungguhnya Allah SWT turun pada malam itu sejak terbenamnya matahari kelangit dunia dan berkata, "Adakah orang yang minta ampun, Aku akan mengampuninya. Adakah yang minta rizki, Aku akan memberinya riki.Adakah orang sakit, maka Aku akan menyembuhkannya, hingga terbit fajar. (HR Ibnu Majah dengan sanad yang dhaif)

Puasa Sya'ban dan Ramadhan

Banyak yang meyakini adanya puasa di bulan Sya'ban, hal ini mungkin lebih baik diperhatikan dari siapa dan pada hari apa, karena terlalu banyak informasi simpang siur mengenai ini dan terlebih lagi banyak fitur rahasia bulan ini untuk menemukan dan memfikskan kapan jatuhnya tanggal 1 awal bulan Ramadhan yang menjadi bulan luar biasa untuk umat muslim karena diwajibkan berpuasa selama 30 atau 29 hari non-stop.

Nisfu Sya'ban

Nisfu Sya'ban artinya adalah pertengahan bulan Sya'ban, jika bulan Sya'ban berusia 30 hari maka tengah-tengahnya adalah tanggal 15 jika 29 hari maka tengah-tengahnya adalah tanggal 14,5 bukan. Banyak peristiwa yang tercatat mengenai tanggal 15 Sya'ban, semua memiliki arti dan riwayat yang memukau. Penting jika diyakini penting dan menjadi tidak istimewa untuk memperingati satu hal karena banyaknya kejadian dan kelahiran di tanggal 15 Sya'ban. Tentu hal ini juga tergantung dengan referensi dari apa yang dibaca, di dengar dan mungkin pengalaman pribadi. Beberapa yang ada di bulan Sya'ban adalah peristiwa :

Ada 2 peristiwa dalam Nisfu Sya'ban (15 Sya'ban) yaitu malam doa Lailatul al-baraat dan kelahiran Al-Mahdi. Terserah mau pilih yang mana namun seorang Aulia bernama Syekh Abdul Khadir Al-Jailani melakukan ritual Shalatul Khoir dan juga riwayat dari Sayidina Hassan AS yaitu dengan mengatakan

“Barangsiapa yang melaksanakan sholat Nisfu Syaban pada malam ini Allah akan memandang padanya dengan 70 pandangan dan Allah memberikan padanya setiap pandangan 70 kebutuhan, yang paling dekat adalah maghrifoh Allah SWT”

Ibadah sholat Nisfu Sya'ban yang juga dikenal dengan nama Sholat Khoir oleh sebagian golongan Muslim yang sejak dulu sudah terfragmentasi adalah dengan dengan melakukan sholat sunnah 100 rakaat yang dilakukan dengan sholat sunnah 2 rakaat dikalikan 50 dengan membaca surat utama Al-Ikhlas sebanyak 10 kali di setiap rakaatnya.

Ibadah sunnah semacam ini tentunya tidak ada batasannya sepanjang untuk kebaikan dan individu yang menjalankannya kuat. Istimewa mungkin di tanah Jawa yang memiliki keunikan tersendiri, terlepas apakah anda melihatnya ini sebagai sisa budaya pagan atau kejawen namun hal ini dilakukan turun temurun sepanjang masa dan sudah lama sekali.

Sya'ban, bulan Ruwah di Kalender Jawa

Orang Jawa mengenal yang namanya Ratu Adil dengan segala pemaknaannya yang terfragmentasi dan ricuh dengan kepentingan serta keyakinan bapak dan mbah-mbahnya yang diajarkan turun temurun. Ada yang mengatakan ratu adil adalah sesuai ramalan Sri Jayabaya yaitu Nala Genggong dan Sabdo Palon, ada yang pernah menganggap Pangeran Diponegoro Sultan Heru Cakra pada saat itu sebagai Ratu Adil. Juga Presiden Soekarno pun tak kalah juga ada yang menganggapnya sebagai Ratu Adil. Bahkan ada polemik ketika Sri Sultan Hamengku Buwono IX saat peristiwa Jogja Kembali dengan Janur Kuningnya adalah saran dari Ratu Adil, atau ada juga yang menyebutnya dari Ratu Kidul. Sungguh semua adalah ajaib dan mencengangkan!.

Orang tradisional Jawa mengenal Ruwah sebagai bulan arwah. Bulan dimana saat untuk mengingat dan menghormati para leluhur yang sudah memasuki alam kubur dan bersemayam di kuburan. Mereka melakukan ritual-ritual tradisi yang sangat naluriah dan manusiawi untuk memuliakan orang-orang tua pendahulunya dengan mengunjungi makam, membersihkan bahkan berdoa beramai-ramai di makam keluarga. Sebagian dari yang biasa dilakukan adalah :

Besik

Besik adalah membersihkan makam. Dilakukan baik secara bersama-sama dengan gotong royong di makam kampung ataupun bersama keluarga di makam keluarga yang kadang berada jauh dengan tempat tinggal. Rumput liar atau apapun yang terlihat mengganggu pemandangan akan dibersihkan sehingga pada bulan Ruwah ini makam-makam akan terlihat bersih dan tidak terasa sangar atau sungup karena dibersihkan oleh sanak keluarga dan keturunan mereka yang sudah meninggal dunia.

Nyadran

Meneruskan besik atau membersihkan makam, selanjutnya pada tanggal yang sudah ditentukan di tiap makam atau kampung. Warga melakukan tahlil bersama di halaman makam dengan membawa makanan maupun hasil bumi untuk di bagikan atau dimakan bersama-sama di halaman makam. Hal ini bisa dimaknakan semacam bulu bekti setelah semua di doakan dan dikhususkan untuk di sajikan pada leluhur setelah itu dinikmati bersama bersama handai taulan.

Tidak terbatas pada masyarakat desa tersebut namun juga keluarga yang jauh biasanya menyempatkan diri untuk hadir sekaligus berziarah ke makam leluhurnya. Banyak yang bisa diambil maknanya di sini seperti persiapan untuk puasa Ramadhan yang dianggap sebagai perang jihad melawan hawa nafsu (makan), sebelum berangkat perang maka membersihkan diri dan memohon restu pada para pendahulunya agar niat berpuasa sebulan mendapatkan ridha dari yang Kuasa, karena setiap kelahiran memerlukan dua orang tua, dan hal tersebut adalah hukum alamiah yang siapapun sulit untuk tidak percaya.

Begitulah, ketan kolak pun muncul berhubungan dengan peristiwa ini, semoga tradisi alami ini tidak lekang di makan jaman oleh ideologi para pemurni dan pembaharu yang menentangnya, tapi ya... ah sudahlah. Beribadahlah sekuat dan semampunya.

[ Foto milik  peristiwa via ]

Atas