Rebutan kursi dan kurang ramainya kontes memanah rembulan di negeri begajul ini mungkin karena luasnya wilayah negeri begajul dan kerja-kerja tim sukses yang sanggup memotong dan menginisiasi keinginan para peserta kontes. Secara wacana dan media semuanya sudah membuat muak apalagi ketika harus turun ke grasroot barangkali hanya sedikit saja orang cerdas yang mau hadir dan mengelu-ngelukannya. Sebab ketika melihat dan mendengar di kampanye maupun debat di televisi yang menghancurkan segala impian, pemimpin yang baik dan memahami substansi berdirinya negeri begajul apalagi substansi keinginan dan amanat penderitaan rakyat. Belum ada yang berani membuka tentang tahapan-tahapan untuk mencapai kesejahteraan rakyat dengan best practice - best practice yang sudah dilakukan, namun hanya sekedar melemparkan wacana dan impian yang diharapkan bisa membuat mabuk dan mempesona yang mendengarnya.
Akankah bangsa itu akan menjadi lebih baik dan berkembang ketika tiap detik penambahan hutangnya sejak tahun 2004 sebesar 2,8 juta rupiah, sangat tidak melegakan hati ketika dikatakan oleh para pakar bijak bestari itu bahwa rasio hutang saat ini lebih rendah, apa maksud dan kenapa harus hutang pula, masih kurangkah penderitaan ini sehingga harus menghutang kenistaan, meskipun gerakan anti korupsi itu gencar sekali, namun tentunya lebih pintar malingnya dari pada pulisi yang baru bisa menangkap setelah kejadian dan ada barang buktinya. Sungguh pedih hati dan nurani yang bisa berpikir bahwa diantara ketiga jagoan tersebut tidak ada yang bisa memuaskan, sementara pengharaman atas nama dosapun sudah digulirkan untuk golput. Sudahkah DPT ada di saku anda sekalian?.
Mengapa tidak harus bersedih dan selalu menatap masa depan negeri begajul dengan penuh harapan dan positif, karena negeri begajul ini memiliki jutaan rakyat yang tangguh dan kreatif, meski harus kredit kepada tengkulak dengan bunga yang mencekik namun mereka masih bisa hidup dan tidak pernah mengeluh kecuali ada yang mengomporinya. Bersyukurlah para pemimpin dan pejabat bangsa yang bisa duduk enak dan stop dreaming start masturbaction, berhenti memimpikan menjadi pejabat publik dan mulailah bekerja memuaskan diri dan hasrat pribadi, serasa masturbasi yang nyaman tanpa diganggu orang lain, atau bahkan ketika ada fasilitas maka angkatlah seorang sekretaris yang cantik untuk memudahkan masturbasi atau sekalian saja disikat, yah... mungkin saja itu semua kesalahan rakyat yang memilihnya, namun apapun itu adalah tanggungjawabmu pada kehidupanmu juga. Mungkinkah negeri begajul hanya dianggap sebagai tempat pentas ala jathilan Iman Brotoseno di Kulonprogo, kalo jathilan sih hasil karya seni, namun jika seluruh orang di negeri begajul, pastinya ada rekayasa sosial yang dahsat.
Mungkin hanya calon yang jadi dan tim suksesnya saja yang bisa merasakan orgasme kepuasan massal, sementara para kere cuman bisa stop dreaming untuk selanjutnya start masturbaction dan melakukanya dengan penuh kehikmatan dan khusyuk patuh karena tidak boleh memberontak atau bahkan menanyakannya mengapa mimpi itu hilang dan cuman harus melakukan masturbasi sendiri, meski masturbasi pikiran dan hati tidak begitu berdosa namun betapa kasihan dan berapa energi positif yang akan hilang musnah, menjadi sebuah angkara untuk kemudian muncul lagi kontes SEO "stop angkara start orgasme", gangbang, blowjob dan handjob sepuasnya, bagi yang belum 17 tahun atau dewasa silahkan meninggalkan bacaan ini, haram...
Meneruskan hal diatas mengingatkan secara jelas ketika naik ke gua Kiskenda, Kulonprogo, dimana disekitar situ ada seseorang bernama Bapak Iman Brotoseno pegiat jathilan, mungkinkah gerakan jathilan itu menjadi suatu perlambang hilangnya mimpi dreaming kemudian hanya start action untuk geleng-geleng dan berjoget tanpa memiliki tendensi bahkan katanya yang melakukan pun tidak sadar atau ingat. Bahasa kerennya "trance", atau "fana", betapa murid-murid Iman Brotoseno itu kelihatan gagah ketika menari dengan kuda lumpingnya, entah siang atau malam mereka bisa berkarya dengan kesenian yang sudah berjalan ratusan tahun tersebut.
Kesenian "jaran kepang" ala Iman Brotoseno Kulonprogo ini menjamur sepanjang masa, entah berapa ratus grup jathilan ala pak Iman ini bercokol di daerah ini, hingga pernah suatu ketika ada lomba sepropinsi DIY sampai mual saya melihat ratusan kelompok jathilan seperti ini. Namun ironis juga ketika melihat salah satu grup jathilan di sebelah The Jogloabang "Turonggo Seto" yang kurang aktif saat ini, karena para anggotanya sudah lelah bekerja sehingga jam-jam latihannya jadi agak kacau.
Salah satu apresiasi kesenian jathilan ala pak Iman Brotoseno ini diberikan oleh salah satu hotel berbintang 5 di Jogja yaitu Hyatt Regency Yogyakarta dimana setiap bulannya selalu mengundang jathilan untuk suguhan kepada para tamu disamping banyak kesenian daerah lainnya. Betapa untuk memelihara kesenian daerah juga memerlukan dana, tenaga serta motivasi yang tidak ternilai. Salut buat pak Iman Brotoseno dengan Jathilannya semoga bisa awet dalam meramaikan dan menyuburkan kesenian daerah yang sudah sedikit dilirik oleh para kawula muda saat ini, bolehlah untuk meramaikan kontes SEO dukungan STOP DREAMING START ACTION ini kita juga menyaksikan kelompok jathilan Iman Brotoseno ini sebagai salah satu wujud nyata pencarian ekonomi kerakyatan ala negeri begajul dengan Persetan Neoliberalismenya, monggo dipersilahkan, namun saya nggak tanggong jawab jika anda jadi kesurupan seperti kelompok pak Iman Brotoseno tersebut...









Pingback
[...] Salah satu apresiasi kesenian jathilan ala pak Iman Brotoseno ini diberikan oleh salah satu hotel berbintang 5 di Jogja yaitu Hyatt Regency Yogyakarta dimana setiap bulannya selalu mengundang jathilan untuk suguhan kepada para tamu disamping banyak kesenian daerah lainnya. Betapa untuk memelihara kesenian daerah juga memerlukan dana, tenaga serta motivasi yang tidak ternilai. Salut buat pak Iman Brotoseno dengan Jathilannya semoga bisa awet dalam meramaikan dan menyuburkan kesenian daerah yang sudah sedikit dilirik oleh para kawula muda saat ini, bolehlah untuk meramaikan kontes SEO dukungan STOP DREAMING START ACTION ini kita juga menyaksikan kelompok jathilan Iman Brotoseno ini sebagai salah satu wujud nyata pencarian ekonomi kerakyatan ala negeri begajul dengan Persetan Neoliberalismenya, monggo dipersilahkan, namun saya nggak tanggong jawab jika anda jadi kesurupan seperti kelompok pak Iman Brotoseno tersebut… dan malah menjadi Stop Dreaming Start Masturb-Action. [...]
Post new comment