Judul diatas memberikan pengertian kepada kita bahwa kebangsaan kita bukanlah sesuatu yang bersifat bulat dan tetap. Kita lihat umpamanya, bahwa pada abad ke-6 masehi kerajaan Sriwijaya di Sumatra Selatan telah di datangi oleh Fahien, yang menyebarkan agama Budha di daerah Sriwijaya. Ketika kemudian Sriwijaya mengirimkan orang-orang Budha ke pulau Jawa pada abad ke-8 maka mereka mendarat di pelabuhan Pekalongan dan meneruskan perjalanan ke Selatan melalui Keras, Kajen dan sebagainya. Mereka mendaki gunung Dieng, dan mendapati kerajaan Kalingga yang beragama Hindu. Kerajaan Kalingga itu dibiarkan saja mengikuti agama Hindu, dikawasan yang sekarang bernama kabupaten Wonosobo. Orang-orang Budha itu melanjutkan perjalanan melalui Kabupaten Magelang, dan mendirikan Candi Borobudur yang beragama Budha. Sebagian dari orang-orang Sriwijaya itu melanjutkan perjalanan ke daerah Yogyakarta. Di sana mereka mendirikan kerajaan Kalingga, tapi beragama Budha.
Pada abad ke-9 masehi, di daerah Prambanan mereka mendirikan Candi Rara Jongrang, terkenal dengan sebutan Candi Prambanan. Candi tersebut sudah menjadi tempat beribadat cara Budha. Pada abad ke-10 masehi, orang-orang Budha di daerah Prambanan itu kemudian berpindah 500 kilometer jauhnya, yaitu ke daerah Kediri. Kerajaan yang mereka dirikan itu disana, memiliki rakyat yang beragama Hindu-Budha. Raja mereka yang sangat terkenal adalah Prabu Airlangga dari daerah Kediri/Daha itu dua abad kemudian mereka berpindah ke Singosari di Malang. Raja mereka yang terkenal adalah Ken Arok. Singosari bertahan hingga abad ke-13, terakhir dipimpin oleh Prabu Kertanegara. Pada abad ke-13, menantunya yang beragama Islam (santri) bernama Raden Wijaya, mendirikan kerajaan Majapahit disebelah utara, yaitu di pinggiran sungai Brantas mereka di dukung oleh angkatan laut Tiongkok, yang sudah beragama Islam. Namun tidak dapat dicegah adanya pertempuran antara kaum santri dan kaum Hindu-Budha (yang sering juga disebut kaum Bhairawa). Ketika kaum Hindu-Budha itu memerangi mereka, banyak orang santri yang mati terbunuh atau luka-luka berat di Troloyo, sekitar 2 kilometer sebelah selatan Trowulan pusat Kerajaan Majapahit Prabu Brawijaya V dari Majapahit, disamping memiliki permaisuri yang beragama Hindu-Budha, juga memiliki istri selir berasal dari Kampuchia. Istri selir itu beragama Islam dan mempunyai anak darinya dua orang. Yang besar bernama Tan Eng Koat, adiknya adalah Tan A Lok. Tan A Lok ini kawin dengan Tan Kim Han, duta besar Tiongkok untuk Majapahit. Tan Eng Hoat, dalam pertempuran di Troloyo itu gugur, bersama-sama banyak pejuang lain. Kakak iparnya, yaitu Tan Eng Hoat kemudian dibawa lari ke daerah Demak sekarang setelah sembuh dari luka-luka beratnya ia mendirikan Kesultanan Demak, di mana ia menjadi Sultan pertama dan memakai nama Raden Patah. Dari kesultanan Demak inilah akan lahir seorang pemimpin yang kemudian bergelar Sultan Agung Hanyakra Kusuma. Ia menjadi raja pertama dinasti Mataram di Yogyakarta.
Dari apa yang diuraikan di atas, jelaslah bahwa faktor kawasan menjadi sangat penting dalam sejarah bangsa kita tidak ada kesatuan ideologis, melainkan begitu banyak pandangan-pandangan dan keyakinan-keyakinan berkembang, tidak pernah dicoba untuk menjadikannya panutan tunggal.
Pada tahun 1919 tiga orang bersaudara sepupu membuat acara tetap yang berusaha menyelaraskan ajaran Islam dan semangat kebangsaan. Mereka adalah Haji Oemar Said Tjokroaminoto, KH. M. Hasjim As’yari dan Pesantren Tebu Ireng kabupaten Jombang, yang sekitar 100 kilometer jauhnya dari kota Surabaya. Mereka dilengkapi dengan KH. A. Wahab Chasbullah dari Pondok Pesantren Tambak Beras, dari kabupaten yang sama. H.O.S Tjokroaminoto memiliki menantu bernama Soekarno yang kemudian hari lebih terkenal dengan sebutan Bung Karno. Tiga orang sepupu itu, dalam diskusi-diskusi itu membawakan ajaran-ajaran agama Islam. Sedangkan Soekarno, membawakan semangat kebangsaan. Diskusi tiap hari kamis itu berlanjut hingga tahun 1926, saat Nahdlatul Ulama berdiri secara tidak terasa, para kyai yang tergabung dalam NU terbiasa dengan dialog antara ajaran Islam dan semangat kebangsaan. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa pembahasan-pembahasan itu pada akhirnya membuat NU yang senantisa berpegang kepada ajaran-ajaran agama Islam, tidak pernah melupakan semangat kebangsaan itu. Karena itu, tidak heran jika Muktamar NU ke-9 di Banjarmasin (tahun 1935) kemudian memutuskan orang-orang santri tidak wajib mendirikan negara Islam.
Kita melihat, bahwa antara ajaran Islam dan semangat kebangsaan tidak perlu dipertentangkan melainkan justru hidup berdampingan secara damai. Semoga untuk selanjutnya, semangat yang demikian itu dapat dikembangkan lebih jauh.
Jakarta, 07 Januari 2009
Merajut Akar-Akar Kebangsaan
Oleh: Abdurrahman Wahid
Disampaikan pada Konferensi Nasional Merajut Akar-akar Kebangsaan, Syarikat Indonesia, di Hotel Sahid Jogja 8 Januari 2009.
Sekalian mengundang menyaksikan :
Blog reactions
Trackback URL for this post:
nostalgia politik masa lalu
from loving you, more than commenting on Sun, 08/16/2009 - 00:33Mau Tje Tung
Buku ini diterdjemahkan menurut Pilihan Tulisan Mau Tje-tung djilid II dalam bahasa Tiongkok jang diterbitkan pada bulan Agustus 1952 oleh Pustaka Rakjat, Peking. [PENERBIT]. Ditjetak di Republik Rakjat Tiongkok. Ini adalah sebuah petundju...
nostalgia politik masa lalu
from loving you, more than commenting on Fri, 08/14/2009 - 14:51Mau Tje Tung
Buku ini diterdjemahkan menurut Pilihan Tulisan Mau Tje-tung djilid II dalam bahasa Tiongkok jang diterbitkan pada bulan Agustus 1952 oleh Pustaka Rakjat, Peking. [PENERBIT]. Ditjetak di Republik Rakjat Tiongkok. Ini adalah sebuah petundju...
nostalgia politik masa lalu
from loving you, more than commenting on Fri, 08/14/2009 - 14:50Mau Tje Tung
Buku ini diterdjemahkan menurut Pilihan Tulisan Mau Tje-tung djilid II dalam bahasa Tiongkok jang diterbitkan pada bulan Agustus 1952 oleh Pustaka Rakjat, Peking. [PENERBIT]. Ditjetak di Republik Rakjat Tiongkok. Ini adalah sebuah petundju...
nostalgia politik masa lalu
from loving you, more than commenting on Fri, 08/14/2009 - 14:47Mau Tje Tung
Buku ini diterdjemahkan menurut Pilihan Tulisan Mau Tje-tung djilid II dalam bahasa Tiongkok jang diterbitkan pada bulan Agustus 1952 oleh Pustaka Rakjat, Peking. [PENERBIT]. Ditjetak di Republik Rakjat Tiongkok. Ini adalah sebuah petundju...
nostalgia politik masa lalu
from loving you, more than commenting on Thu, 08/06/2009 - 03:32Mau Tje Tung
Buku ini diterdjemahkan menurut Pilihan Tulisan Mau Tje-tung djilid II dalam bahasa Tiongkok jang diterbitkan pada bulan Agustus 1952 oleh Pustaka Rakjat, Peking. [PENERBIT]. Ditjetak di Republik Rakjat Tiongkok. Ini adalah sebuah petundju...
nostalgia politik masa lalu
from loving you, more than commenting on Thu, 07/23/2009 - 22:07Mau Tje Tung
Buku ini diterdjemahkan menurut Pilihan Tulisan Mau Tje-tung djilid II dalam bahasa Tiongkok jang diterbitkan pada bulan Agustus 1952 oleh Pustaka Rakjat, Peking. [PENERBIT]. Ditjetak di Republik Rakjat Tiongkok. Ini adalah sebuah petundju...
nostalgia politik masa lalu
from loving you, more than commenting on Thu, 07/23/2009 - 21:43Mau Tje Tung
Buku ini diterdjemahkan menurut Pilihan Tulisan Mau Tje-tung djilid II dalam bahasa Tiongkok jang diterbitkan pada bulan Agustus 1952 oleh Pustaka Rakjat, Peking. [PENERBIT]. Ditjetak di Republik Rakjat Tiongkok. Ini adalah sebuah petundju...
nostalgia politik masa lalu
from loving you, more than commenting on Thu, 07/23/2009 - 03:01Mau Tje Tung
Buku ini diterdjemahkan menurut Pilihan Tulisan Mau Tje-tung djilid II dalam bahasa Tiongkok jang diterbitkan pada bulan Agustus 1952 oleh Pustaka Rakjat, Peking. [PENERBIT]. Ditjetak di Republik Rakjat Tiongkok. Ini adalah sebuah petundju...
nostalgia politik masa lalu
from loving you, more than commenting on Mon, 07/13/2009 - 01:25Mau Tje Tung
Buku ini diterdjemahkan menurut Pilihan Tulisan Mau Tje-tung djilid II dalam bahasa Tiongkok jang diterbitkan pada bulan Agustus 1952 oleh Pustaka Rakjat, Peking. [PENERBIT]. Ditjetak di Republik Rakjat Tiongkok. Ini adalah sebuah petundju...
nostalgia politik masa lalu
from loving you, more than commenting on Fri, 07/10/2009 - 07:19Mau Tje Tung
Buku ini diterdjemahkan menurut Pilihan Tulisan Mau Tje-tung djilid II dalam bahasa Tiongkok jang diterbitkan pada bulan Agustus 1952 oleh Pustaka Rakjat, Peking. [PENERBIT]. Ditjetak di Republik Rakjat Tiongkok. Ini adalah sebuah petundju...
nostalgia politik masa lalu
from loving you, more than commenting on Wed, 07/08/2009 - 04:50Mau Tje Tung
Buku ini diterdjemahkan menurut Pilihan Tulisan Mau Tje-tung djilid II dalam bahasa Tiongkok jang diterbitkan pada bulan Agustus 1952 oleh Pustaka Rakjat, Peking. [PENERBIT]. Ditjetak di Republik Rakjat Tiongkok. Ini adalah sebuah petundju...
nostalgia politik masa lalu
from loving you, more than commenting on Mon, 07/06/2009 - 14:24Mau Tje Tung
Buku ini diterdjemahkan menurut Pilihan Tulisan Mau Tje-tung djilid II dalam bahasa Tiongkok jang diterbitkan pada bulan Agustus 1952 oleh Pustaka Rakjat, Peking. [PENERBIT]. Ditjetak di Republik Rakjat Tiongkok. Ini adalah sebuah petundju...
nostalgia politik masa lalu
from loving you, more than commenting on Mon, 07/06/2009 - 14:17Mau Tje Tung
Buku ini diterdjemahkan menurut Pilihan Tulisan Mau Tje-tung djilid II dalam bahasa Tiongkok jang diterbitkan pada bulan Agustus 1952 oleh Pustaka Rakjat, Peking. [PENERBIT]. Ditjetak di Republik Rakjat Tiongkok. Ini adalah sebuah petundju...


Pingback
[...] sudah saatnya ketika rasa kebersamaan yang dibentuk dalam perjuangan merajut akar-akar kebangsaan Indonesia sudah menemukan titik kebosanan karena ketakutan akan hilangnya citra diri, citra kesukuan, citra [...]
Pingback
[...] hal ini memang sudah tidak bisa diubah dengan kecerdasan berpikir yang jangka panjang sebagaimana Merajut Akar-Akar Kebangsaan Indonesia. Ditulis oleh untouch Disimpan di [...]
Sejarah memang penting di
Sejarah memang penting di ceritakan ke anak-anak maupun siswa (kebetulan saya guru), masalahnya anak sekarang sepertinya kehilangan akar budayanya. Kehilangan semangat juang dan kehilangan jiwa kebangsaannya, menurut pengamatan saya karena generasi muda semakin tidak mengenal sejarah. Dan yang lebih memperparah keadaan adalah contoh para pemuka negeri ini, mereka semakin tidak bisa dijadikan panutan.
Menjadi orangtua dan guru saat ini semakin berat bebannya. Ditambah generasi tuapun sebagian besar sudah semakin disibukkan dengan sinetron sehingga lupa pada tugasnya untuk mendongeng tentang sejarah pahlawannya.
Guru ruang geraknya dibatasi oleh kurikulum. Akankah negeri ini kehilangan jiwanya, jiwa kebangsaannya?
Lumayan seger buat refresh
Lumayan seger
buat refresh pelajaran sejarah dulu
ada dua hal baru buat. yang
ada dua hal baru buat.
yang pertama, candi prambanan adalah candi buddha, padahal sekarang menjadi candi hindu.
yang kedua, raden wijaya adalah seorang santri. kalo aku baca dari beberapa buku sejarah, pada zaman majapahit didirikan, islam belum masuk ke sana. islam baru masuk pada saat majapahit sudah besar dan mengalami kemunduran.
hmm, sepengetahuan saya malah
hmm, sepengetahuan saya malah raden wijaya itu islam wekeke...
nah itu kan kuncinya, seperti
nah itu kan kuncinya, seperti yang ada di postingan atas bahwa semangat kebangsaan tidak perlu dipertentangkan melainkan justru yang perlu diutamakan adalah hidup berdampingan secara damai, aman sentosa, sejahtera, merdeka lahir batin, hidup Indonesia....maju dan tetap jaya
kalau ditilik "asbabun
kalau ditilik "asbabun nuzul"-nya, islamlah yang justru malah memelopori semangat kebangsaan. alasan mendasar yang digunakan adalah hubbul wathon minnal iman (cinta tanah air adalah sebagian dari iman). *duh kok jadi sok tahu saya*
Pingback
[...] semangat kebangkitan bangsa yang harus diingat usaha-usaha untuk merajut akar-akar kebangsaan negeri ini, maka rakyat haruslah mulai memanggil jati dirinya untuk bisa menguasai kembali dan [...]
alangkah indahnya hidup ini
alangkah indahnya hidup ini jika semua itu bisa berjalan berdampingan
koyok-e wes komen aku... tapi
koyok-e wes komen aku...
tapi komen maneh wae ah
Hidup gusdur...
senengnya bisa belajar
senengnya bisa belajar sejarah,,
indonesia adalah negara
indonesia adalah negara dengan keberagaman paling menarik di dunia, beruntung sekali Abu dilahirkan disini...
wah sejarah yang keren
wah sejarah yang keren nih...
maaf bang baru mampir...lama ngga Ol nih...pa kabarnya???
wah di jogja mas,
wah di jogja mas, he,,he,
coba klo skitar tempat saia skarang brada
di riau, pasti saia pengen liat
salam kenal mas, ditunggu komentar balasannya
ya semoga tidak terjadi
ya semoga tidak terjadi friksi-friksi antar kepentingan..
mas suryaden ikutan tampil
mas suryaden ikutan tampil gak neh... kalo ikutan main mo liat ahhh hehehe..
Justru Islam juga mengajarken
Justru Islam juga mengajarken paham kebangsaan mas, "Wahai orang-orang nyang beriman, taatlah kepada Alloh dan ta'atilah rosulmu, daan, ulil amri minkum (pemimpin urusan negara dan agama kalian-red). Salam kenyal mas PAN :roll:
Ingin sekali rasanya bisa berkunjung ke blognya mas Surya nyang selalu penuh senyum.
jangan2 ini ada hubungannya
jangan2 ini ada hubungannya sama "ilusi" yang barusan dikirim kang blontank ke imelku :}
pokoke pejah gesang gus dur!!!
wah sebuah akr yang digali
wah sebuah akr yang digali berdasarkan akar akar aslinya nih .... sungguh luar biasa nih kang tulisannya nasionalisme sekali.....saya suka, dan kebetulan ada tugas sekolah nih.....salam kenal yah kang, ini kunjungan perdana saya kesini
klo kita selalu khusnudzon
klo kita selalu khusnudzon emang ternyata perbedaan itu membawa rahmat dan kedewasaan tuk kita... Cayooo....!!!!
Indahnya perbedaan dalam
Indahnya perbedaan dalam kebersamaan, nyamannya beda pendapat tapi tetep saling hormat....
HIdup berdampingan dalam perbedaan dinaungi keselarasan......
mas den, ini agak mirip sama
mas den, ini agak mirip sama film hollywood, tapi ndak inget judulnya... hmmm bentar ya tak inget dulu..
sampean melu main ora mas?
sampean melu main ora mas?
tak bisa ikut.... :D
tak bisa ikut....
ini hubungan antara tulisan
ini hubungan antara tulisan dgn poster-nya itu gimana to? gak mudheng
Wah.. ternyata hari ini to..
Wah.. ternyata hari ini to.. 1,5 jam lagi.. ga bisa ikut..
wah jadi seperti itu
wah jadi seperti itu sejarahnya....
oh jadi soekarno itu mantunya
oh jadi soekarno itu mantunya HOS Tjokroaminoto?
mereka bertiga itu yang mendirikan Serikat Islam Indonesia bukan?
duhh parah aku kalo sejarah
lamkenal bro
kalau dipikir pikir sejarah
kalau dipikir pikir sejarah bangsa kita panjang juga yah. udah banyak kerajaan dan dinasti yg hilir berganti memimpi. Semoga indonesia tetap jaya 2000 tahun lagi, dan 2000 tahun kemudian tetap berdiri! merderka!
Kita melihat, bahwa antara
Kita melihat, bahwa antara ajaran Islam dan semangat kebangsaan tidak perlu dipertentangkan melainkan justru hidup berdampingan secara damai...
Dipertentangkan juga buat apa???
kapan ning bandung ngono kang
kapan ning bandung ngono kang
keren nie euyyyyy....
keren nie euyyyyy....
lhadalah, prolog dari gus dur
lhadalah, prolog dari gus dur untuk undangan sampeyan? mantab cak! hahaha
tak kiro mung film-film nang
tak kiro mung film-film nang TV sing ono pariwaranya..., ternyata tulisan di blog juga ada...
wakakakak...
Soal kebangsaan adalah soal histomat, historis material dari proses perjalanan sebuah entitas untuk bermetamorfosa menjadi sebuah bangsa.
oh iya..ya.. hari ini kan
oh iya..ya.. hari ini kan hari Kebangkitan Nasional ya??
semoga Indonesia terus bangkit dan maju... amin
hmm... klo di jadiin satu
hmm... klo di jadiin satu sbagai panutan tunggal... ntr gak ada istilah bhineka?
Singkat kata singkat Cerita
Singkat kata singkat Cerita .....
Arep ngomong opo ..... yang ada hanya "acceptance" kemudian beramai-ramai mendirikan "rumah" di tanah milik Gusti Allah ini dan di beri nama Indonesia... kemudian terpisah satu sama lain terkotak-kotak dibatasi oleh garis yang disebut "Batas Negara".
Tinggal ..terpaksa tidak terpaksa ... kudu nguri-uri rumah bersama ini.... dibutuhkan rasa "Chauvinist", apalagi kita yang udah nongol jauh dari masa pembentukan rumah bernama Indonesia ini... "Mati Urip kudu mardiko"
Halah ngemenk opo aku iki ekekeke.......
Top dah.. kesadaran akan "kemajemukan" para pendiri bangsa ini patut diacungi jempol.
Info yang menarik, tapi aku
Info yang menarik, tapi aku mo hunting buku ini. Selamat Hari Kebangkitan Nasional
gus dur emang mantabbbbb..
gus dur emang mantabbbbb..
wah ada teater ya?
wah ada teater ya?
Post new comment