Negeri begajul diambang kebinasaan dalam arti sesungguhnya maupun dalam perspektif demokrasi, ambang tipis daripada sebuah keberlanjutan akan kemerdekaan yang sesungguhnya. Ketika pada hari itu jika saja tidak ada seorangpun yang berani dan lantang mengatakan untuk beroposisi kepada yang dipertuan agung. Semuanya akan menjadi kelu, tanpa ada riak-riak payung pembelaan kepada suara-suara kebenaran maupun amanat penderitaan rakyat.
Ketika para petinggi rombongan geng yang ketika diadakan kontes untuk menuju kursi dewan geng nasional Negeri Begajul, para petinggi itu mengikuti sebuah audisi untuk menjadi punggawa yang dipertuan agung,... aduhai mereka datang dengan mata bersinar dan wajah yang berseri-seri seakan entah apa yang dirasakannya adalah suatu kemenangan atau berkah atau apalah yang katanya indah-indah itu...
Sesak hati ini ketika mendengar pengakuan seorang punggawa yang tidak dilanjutkan lagi kontraknya, bahwa menjadi punggawa sangat mudah hanya memerlukan penyesuaian selama maksimal beberapa hari saja langsung bisa tahu apa yang akan dan harus dilakukan,... wah betapa mudah dan indahnya menjadi pejabat tinggi negeri begajul, pantas saja tidak ada kemajuan yang berarti dalam bidang yang dipegangnya..., lebih cilaka lagi ketika nantinya arus informasi tehnologi akan menjadi searah tanpa menghargai pendapat pihak lain yang seharusnya bisa eksis dan pingpong untuk keadaan yang lebih baik. Warga harus berjuang sendiri dengan tidak lupa harus membayarkan pundi-pundi upeti kepada yang dipertuan agung dan gengnya ini, semakin menderita ditambah dengan semakin tuanya bumi yang sudah lelah menjadi tempat kehidupan para begajulan, dimana ada bencana disitu ada berkah, buset...
Ekonomi Kerakyatan, ah .. binasalah kamu, ketika segala prasyarat untuk menjadi negara full kapitalis hanya dihapuskan dengan jumlah subsidi yang kian lama kian mengkerut dan dilakukan dengan rasa berat hati, dimana perusahaan-perusaahan milik negeri begajul yang memonopoli pasarpun tidak bisa meraup keuntungan untuk selalu merugi, memangnya perusahaan untuk rakyat itu harus untung dan meraup kekayaan, bukankah kekayaan negara adalah ketika rakyat dengan amanat penderitaannya bisa tersenyum bahagia, bisa memiliki cadangan makan selama minimal sebulan, dan tidak harus mengalami kesulitan dalam mencari benih api, maupun benih energi untuk memasak ataupun meneranginya ketika tidur dan bekerja.
Kekasihku, tumpuan kehidupan dan masa depan anak-anakku, matilah kamu sekarang juga, dan dengan berat hati aku tak bisa menolongmu meski ada seribuan manusia yang memiliki pikiran yang sama, namun harus dihadapkan dengan kewarasan kehidupan buatan enam ratus enam puluh enam perintah setan yang saat ini sedang menguasai. Bukankah ketika korupsi dan penyelewengan dilakukan oleh seorang bergelar doktor atau profesor tentunya kan tidak bisa di lacak oleh orang biasa meski koran dan media menggertak sambal, dan bahkan para mahasiswa yang masih takut pada dosennya, ketika memprotes dan menumpahkan perasaannya tentang alamari brankas negeri begajul yang dibobol dan dicuri sebagian isinya.
Kesabaran untuk menemukan dengan cerdas kekalahan-kekalahan di depan, meski dengan usaha sekuat tenaga dan pikiran yang bisa dilakukan hanyalah tambal sulam dan memperlama proses kekalahan ini, dimana semuanya nanti akan dengan sadar merasakan bahwa saling memperdaya dan menguasai sumber-sumber kekayaan di desa sendiri sudah sangat sulit dan alot untuk dipertahankan. Bahwa menjadi bagian dari satu dunia adalah sebuah kekalahan atas kepemilikan sendiri serta sebuah era baru dimana hanya orang-orang yang memiliki nyali untuk melakukannyalah yang berhasil menguasai dan memiliki kemanusiaan-kemanusiaan yang seharusnya milik bersama.
Meski semuanya tidak bisa dengan semudah membalik telapak tangan untuk membinasakannya, pastilah dengan semua kekuatannya lambat laun akan mengalahkan dan meluluhlantakan segala pertahanan atas nama amanat penderitaan rakyat, apalagi dengan roadmap yang sama sekali tidak jelas, hanya janji dan janji untuk menumbuhkan perekonomian secara teoritis sementara korban-korban persaingan di kelas bawah semakin berjatuhan, namun meninggikan kelas-kelas atas dengan jarak paut yang semakin sulit untuk dinalar.


saya setuju dengan pakne
saya setuju dengan pakne galuh sob
Kok belum dihapdet mas,
Kok belum dihapdet mas, numpang blogspotnya tak promosiken ya, tapi aku selalu kesulitan klik kolom komenge, karena lemotnya koneksiku.
walah aku malah tambah mumet
walah aku malah tambah mumet mbasan ngerti iki mas waduh .......
saya suka membaca cerita
saya suka membaca cerita nyata ttg negeri ini... nyaris sama
Menjadi menteri di negeri
Menjadi menteri di negeri begajul memang harus berani teken kontrak. Ya, kontrak untuk agar selalu sendiko dawuh dengan yang dipertuan agung. Tak boleh lagi, ada bawahan yang berani menyalip di tikungan. Ekonomi kerakyatan? Selama negeri begajul masih tak bisa berdiri tegak di depan Paman Sam, selama itu pula ekonomi kerakyatan akan terus dilibas dengan sistem ekonomi kapitalis.
ekonomi kerakyatan semakin
ekonomi kerakyatan semakin susah terwujud kang
ironis memang,padahal di negeri begajul ini semua proses pemilihan aparatur negara melibatkan rakyat,namun sepertinya keberuntungan belum berpihak pada rakyat
yah... begitulah kira-kira
yah... begitulah kira-kira "isi" dari negeri begajul itu.....
kabinet po keblenyet yo
kabinet po keblenyet yo mas??? kekekeke
semoga jika gaji para
semoga jika gaji para pembantu presiden ini jadi naik,di barengi pula dengan kinerja yang bagus
Begitulah Paktua... Memang
Begitulah Paktua... Memang begitu...
Post new comment