
06/02/2009 - 17:48
Beginilah jadinya ketika diakui atau tidak kita memasuki suatu era, zaman edan, "nek ora ngedan ora keduman, bejo uwong sing eling lan waspodo', bahasa nasionalnya kira-kira berarti 'kalo tidak nekat tidak kebagian, namun masih selamatlah orang yang iman dan menjaganya'. Hakikat pendidikan dan tujuan pendidikan seakan dicampur dan dibolak-balik entah untuk apa, seharusnya hakikat pendidikan adalah untuk memanusiakan manusia, atau menjadikan manusia Indonesia seutuhnya, tapi kenapa malah menjadi 'Mencerdaskan kehidupan bangsa' aneh sekali kemudian ditambah lagi bebannya dengan IMTAQ dan lain sebagainya yang malah membuat anak-anak tercerabut dari dunianya, anak sekecil itu sudah harus menghadapi beban berat mata pelajaran dan bersaing dengan teman-teman yang seharusnya adalah temannya bermain, sehingga semisal dalam kelas-kelas akselerasi maka akan banyak ditemukan traumatik-traumatik tertentu pada kejiwaan anak nantinya, yang kemungkinan besar akan menciptakan rasa kecemasan aneh atau tingkah laku yang aneh pula ketika dewasa nantinya, namun saya berharap tidak begitu.
Mungkinkah praktik pendidikan sekarang hanya dipahami sebatas sarana penempelan pengetahuan bukanya transformasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai yang lebih menekankan pada proses pendewasaan pemikiran dan mengartikan belajar sebagai proses memaknai, dan mengkritisi atas peristiwa-peristiwa kehidupan nyata yang kerap terjadi di lingkungan sekitar kita secara lebih mendalam (Paulo Freire, 1970). Bukan hanya mencari nilai yang tinggi maupun sebagai sarana meningkatkan status sosial, hakikat pendidikan lebih dari itu tentunya. Serta bukankah sangat menyakitkan sekali sebagai insan yang memiliki potensi hanya diterjemahkan dan dikotak-kotakkan dalam tabel dan angka saja. Memang angka bisa bicara ketika dikontekskan, namun dalam konteks yang luas dengan jutaan situasi, apakah bisa terwakili detail demi detail kategorinya.
Penuhanan atas angka sebagai indeks, agaknya memang hanya bisa diterima oleh kalangan cerdas tertentu pula, tidak bisa disamaratakan meskipun dalam jenjang pendidikan yang setara. Peristiwa SMS kunci jawaban soal Ujian Nasional yang nyasar-nyasar, ataupun guru kepada muridnya barangkali juga efek dari penuhanan angkat tersebut, sehingga muncullah praktik-praktik yang keliru, kebetulan saja jika kunci jawabannya benar pasti tidak akan mencuat permasalahannya dan diadakan pesta besar serta uang berlimpah mengikuti dibelakangnya, namun ketika salah dan mengakibatkan kegagalan satu sekolah ternama seperti di Kota Ngawi itu, tentu akan menjadi aib yang sangat mencoreng dunia pendidikan kita. Semua harus didudukkan bersama untuk dapat mengetahui letak kejahatan, sehinga bisa diputus rangkaiannya, dan tentu saja tidak ada korban dalam hal ini karena semuanya adalah pelaku, baik membiarkan, mengijinkan hingga penerima manfaatnya, juga harus legowo dalam menerima hukumannya, entah siapapun figurnya.
Hal ini harus bisa segera diatasi sekaligus dipahami bahwa penuhanan ijazah dan kemampuan akademik harus dengan kemampuan life skills agar tidak terlalu mengecewakan masyarakat dan orangtua siswa, sehingga produk lulusan sekolah atau lembaga pendidikan di negeri ini bisa hidup dimanapun sekaligus tidak tercerabut dari akar budayanya yang agraris misalnya, sebab makin tingginya tingkat persaingan dalam mendapatkan pekerjaan, berbanding terbalik dengan lapangan kerja yang hanya menjadi pemanis ketika para calon pemimpin berkampanye untuk duduk di kursi kekuasaan yang nikmat empuk sejuk bikin kecanduan, namun peristiwa seperti dibawah ini seharusnya memang dilaknat sekeras-kerasnya, untuk hal seperti ini MUI kok malah diam, tidak mengharamkan UNAS misalnya karena banyak madharatnya, karena bukan tidak mungkin kejadian stroke usia muda adalah karena beban akademik juga, membuat khalayak berfikir pula apakah MUI memang tidak memiliki akar di ranah bawah, dan tidak dekat dengan umat atau... ah entahlah... pikiren sendiri.
Seolah memang dengan banyaknya peristiwa kebocoran soal maupun jawaban UAN, juga korban yang berjumpalitan, MUI sebagai lembaga fatwa harus bertindak segera untuk mengharamkan penuhanan angka, mengantungkan nasib dengan ijazah tanpa dilandasi kemampuan yang jelas, haram ketika nilai angkat tidak ada keterangannya, haram ketika tidak lulus berjamaah boleh diulangi lagi UANnya, haram ketika guru meskipun dengan niat baik membantu muridnya menjawab soal UAN, haram ketika soal UAN belum pernah diajarkan kepada murid, haram ketika memakai standar soal yang super sulit, haram ketika menghalangi niat anak sekolah tapi harus bayar mahal, haram ketika sekolah sampai sore, haram ketika ada hukuman pindah kelas karena nilainya kurang, haram ketika beban sekolah membuat anak stress, belum lagi tentang video-video seks dan porno anak sekolah yang sering menghebohkan, serta harusnya mengharamkan globalisasi baik dalam metode pendidikan maupun akademik yang tidak memiliki akar budaya setempat. Sebab hanya menciptakan adu strategi tipuan untuk mendapatkan nilai kelulusan yang akhirnya malah bisa dipertanyakan kembali. Amin.
Sabtu, 30/05/2009 13:29 WIB
Gara-gara Kunci Jawaban, 100 % Siswa SMAN 2 Ngawi Tidak Lulus
Sugeng Harianto - detikSurabaya
Ngawi - 334 Murid kelas 3 SMAN 2 Kabupaten Ngawi harus mengulang Ujian Akhir Nasional (UAN) pada 8 Juni 2009 mendatang. Pasalnya, dari koreksi Dinas Pendidikan Nasional, hasil ujian mereka dinyatakan tidak lulus.
Keterangan ini diperoleh wartawan dari Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ngawi, Abimanyu, saat melakukan kunjungan di SMAN 2 Ngawi, Sabtu (30/5/2009)
Menurutnya, asil scan Dinas Pendidikan (Dindik) Pusat ditemukan 4 lembar jawaban mata pelajaran milik SMA2 Ngawi yang hasilnya sama dan salah semua. Setelah dilakukan penelusuran, diduga seluruh siswa mengerjakan isi soal berdasarkan kunci jawaban yang beredar via SMS gelap.
"Dari scaning Dindik pusat ternyata hasil jawaban sekolah SMAN 2 Ngawi semua sama. Dan ironisnya lagi salah semua, sehingga kita berikan kesempatan untuk mengulang ujian susulan. Kalau tidak mengulang ujian lagi jelas tidak lulus semua," jelas Abimanyu.
Secara terpisah, Bupati Ngawi, Harsono di tempat yang sama juga membenarkan kasus yang menimpa SMAN 2. Menurutnya semua yang terjadi adalah musibah, dan orangtua murid harus memberikan pengarahan kepada anaknya.
"Semua musibahlah, sebagai orangtua harus ikut memberikan pengarahan," tambah Harsono.
Untuk mengantisipasi adanya gejolak pada murid, seluruh wali kelas hari ini dikumpulkan untuk diberi pengarahan jika akan dilakukan ujian ulang 8 Juni 2009 mendatang.
4 Mata pelajaran yang akan diulang oleh SMAN 2 Kabupaten Ngawi yakni untuk Kelas IPS yakni Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Sosiologi dan Geografi. Sedangkan kelas IPA hanya 1 pelajaran yang diulang yakni pelajaran Bahasa Indonesia.(bdh/bdh)
Senin, 01/06/2009 22:46 WIB
Seluruh Siswa Tak Lulus UAN
Akan Ujian Ulang, Alumni SMUN 2 Ngawi Kirim 'Petisi Batavia'
Budi Sugiharto - detikSurabaya
Surabaya - Adanya dugaan kecurangan yang terjadi pada saat Ujian Akhir Nasional (UAN) yang menimpa SMUN 2 Ngawi menyebabkan seluruh siswa yang mengikuti ujian nasional tahun 2009 tidak lulus. Kabar itu tentu membuat para alumninya yang tersebar di Jakarta prihatin.
Jaringan Alumni SMUN 2 Ngawi yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya menerbitkan petisi dan tuntutan. Petisinya dinamakan 'Petisi Batavia' dan dilayangkan kepada pejabat daerah, dinas pendidikan, SMAN 2 maupun kepolisian di Ngawi.
Petisi Batavia seperti dalam siaran pers yang diterima, Senin (1/6/2009),isinya ada 7 point. Diantaranya meminta kepada Bupati, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ngawi dan seluruh jajaran terkait untuk bertindak bijak dan bekerja keras untuk mengusut adanya dugaan kecurangan atau kesalahan dari pihak korektor soal secara terbuka (transparan) dan obyektif.
Para pejabat itu juga diminta tidak membuat pernyataan kepada publik yang dapat meresahkan siswa, orang tua/wali murid dan masyarakat pada umumnya. Selain itu harus ada perlindungan hukum dan hak-hak siswa terkait dengan kelulusan serta memberikan kepastian penyelesaian masalah dengan sebaik-baiknya.
Kepolisian diminta berperan aktif mencari, melakukan penyelidikan, penyidikan dan proses hukum lainnya yang diperlukan guna mengungkap adanya dugaan tindak pidana dalam masalah ketidaklulusan Ujian Akhir Nasional di SMA Negeri 2 Ngawi.
Para alumni juga menyesalkan adanya kebijakan pelaksanaan ujian ulangan yang akan diselenggarakan pada tanggal 8 Juni 2009. Menurut mereka ujian ulang itu tidak memiliki landasan materiil maupun formil yang kuat. Selain itu, ujian ulangan berpotensi menimbulkan keresahan dan kecemburuan bagi sekolah lain," tegasnya.
"Kami minta pihak sekolah meninjau kembali ujian ulang itu," tegas M Arief Kurniawan, mewakili para alumni SMAN 2 Ngawi Regional Jakarta.
Kepada siswa dan wali murid dan masyarakat diimbau para alumni untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh adanya isu-isu yang belum tentu kebenarannya. Arief menyoroti alasan pelaksanaan ujian ulangan ini terkesan sangat dipaksakan karena tidak adanya keterbukaan, transparansi dan hanya berdasarkan asumsi-asumsi.(gik/gik)
Selasa, 02/06/2009 10:51 WIB
Seluruh Siswa Kelas 3 Tidak Lulus UAN Ulang di SMAN 2 Ngawi Demi Menyelamatkan Siswa
Irawulan - detikSurabaya Surabaya -
Ujian Akhir Nasional (UAN)) ulang yang akan dilaksanakan seluruh kelas 3 SMA Negeri 2 Ngawi 8 Juni dimaksudkan untuk menyelamatkan mereka. Dengan ujian ulang ini diharapkan, para siswa ini tidak menjadi korban pihak yang tidak bertanggung jawab.
"Bukan hukuman, tapi harus diselamatkan. Dan ini merupakan peringatan UAN yang akan datang agar siswa dan orangtua serta guru jangan tergiur informasi tidak benar," kata Kepala Dinas Kependidikan Provinsi Jawa Timur, Suwanto saat berbincang dengan detiksurabaya.com, Selasa (2/6/2009).
Menurutnya ada pihak yang tidak bertanggung jawab dalam persoalan ini. Persoalan di Ngawi mencuat setelah ada laporan dari Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yang menyatakan jika seluruh siswa tidak lulus karena hampir semua jawaban soal ujian terdapat kesamaan dan salah semua.
"Adanya kesamaan jawaban, tapi untuk mata pelajaran tertentu. Diduga semacam kalau salah, salah semua. Ini bukan bocor tapi ada pihak tertentu ingin memanfaatkan," tuturnya.
Ketika disinggung apakah tidak akan menimbulkan kecemburuan sekolah lain? Suwanto menegaskan jika tidak ada yang iri, karena memang di sekolah tersebut ada persoalan.
Langkah ini merupakan bentuk penyelamatan. "Tidak. Ada persoalan yang terjadi maka kita mengambil langkah-langkah. Di tempat lainkan tidak ada persoalan," tandasnya.
Mantan Kadis Kominfo Jawa Timur ini menambahkan, pihaknya sampai saat ini masih belum memikirkan sanksi bagi pihak sekolah atau Dinas Pendidikan Ngawai.
Mereka saat ini masih menfokuskan pada penyelamatan siswa terlebih dahulu. "Belum berpikir ke sana. Tapi ada evaluasi bagaimana persoalan itu bisa terjadi," pungkas Suwanto.
Anda setuju UAN Diulang?(bdh/bdh)
Bandingkanlah:
Corat-coret sebelum ujian Nasional Kembali ke masalah jawaban ujian nasional yang dibagikan lewat selebaran fotocopy kertas HVS dan disebarkan juga via SMS. Saya sendiri yang bukan lagi seorang pelajar mendapat 2 kali SMS dari nomor yang tidak dikenal. SMS yang berisi jawaban ujian nasional, uedan tenan...!! Diknas negeri antah berantah pasti mengelak jika tuduhan ini diarahkan kepadanya. Pihak sekolah pasti tak akan mengakui kasus ini. Pengawas independent pasti akan mengatakan bahwa ujian nasional berjalan baik dan lancar serta tidak ada kecurangan. Padahal, saya menanyakan ke sepuluh pelajar dari sekolah yang berbeda dan sembilan diantaranya mengaku mendapatkan jawaban soal ujian nasional. Satu yang lain mengaku tidak mendapatkan jawaban tapi karena ia datang terlambat, sementara teman-teman satu ruangan semuanya mendapatkan jawaban
[ Selasa, 02 Juni 2009 ]
33 SMA Lakukan Kecurangan dalam Unas Kunci Jawaban dari Guru hingga Joki lewat SMS
JAKARTA - Dunia pendidikan Indonesia benar-benar ternoda. Kasus kecurangan pelaksanaan ujian nasional (unas) tahun ajaran 2008/2009 tidak hanya dilakukan 19 SMA, melainkan 33 SMA. Selain itu, kecurangan tersebut terjadi di level pendidikan menengah tingkat pertama (SMP). Itulah fakta terakhir yang dibeberkan Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP) kemarin.
Ketua BSNP Prof Eddy Mungin Wibowo mengungkapkan, kecurangan itu mayoritas terjadi di daerah. ''Total ada 33 SMA. Kami sudah mendatanya dan menyiapkan ujian ulang untuk seluruh SMA itu,'' terangnya kemarin. Kasus pelanggaran berat tak hanya terjadi di SMAN 2 Ngawi, tapi juga terjadi di Sungai Liat, Bangka Belitung.
Kasusnya adalah joki oleh guru dengan menyebarkan kunci jawaban unas melalui pesan SMS. Pesan itu kemudian disebar di SMA Bakti dan SMA Setia Budi. Menurut Mungin, kasusnya saat ini ditangani pihak kepolisian. Dua sekolah itu juga harus mengulang ujian.
Siswa SMA Bakti jurusan IPA harus mengulang mata pelajaran bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan kimia. Sedangkan siswa jurusan IPS harus mengulang semua mata pelajaran yang diujikan dalam unas. Yaitu, matematika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, ekonomi, geografi, dan sosiologi. Sementara siswa SMA Setia Budi harus mengulang semua mata pelajaran, baik untuk jurusan IPA maupun IPS.
Yang memprihatinkan lagi adalah bentuk kecurangan di Kabupaten Kendari, Sulawesi Tenggara. Seluruh SMP dan MTs di kabupaten itu harus mengulang ujian lantaran mendapat kunci jawaban unas. (Selengkapnya lihat grafis). Kronologinya, sehari sebelum pelaksanaan unas atau pada (27/6) lalu, salah seorang guru SMP di kabupaten itu mencuri soft copy soal unas di percetakan. Dari soal itu dibuat kunci jawaban. Lantas, kunci jawaban itu disebarkan ke seluruh sekolah di Kendari. Namun, pihak kepolisian setempat telah berhasil menangkap guru tersebut.
Kemudian, pengawas, Irjen, dan BSNP turun ke lapangan untuk membuktikan apakah kunci jawaban itu sesuai dengan kunci jawaban asli. Hasilnya, pola jawaban semua siswa sama, tapi tidak sesuai dengan kunci jawaban asli. ''Artinya, jawaban siswa salah semua. Karena ini bentuk kecurangan dan melanggar POS (prosedur operasional standar, Red), akhirnya kami putuskan mengulang ujian itu,'' terangnya. Seluruh siswa SMP dan MTs Kabupaten Kendari harus mengulang semua mata pelajaran. Pelanggaran lain terjadi di SMPN 1 Lebong Bengkulu, MTs Kabupaten Kolaka, dan SMPN 4 Sampara, Kabupaten Konawa (Sulawesi Tenggara).
Mungin menjelaskan, sejatinya keputusan menggelar ujian ulang tidak diambil begitu saja. BSNP beberapa kali mengundang para kepala dinas kota/kabupaten setempat untuk membahas kasus tersebut. Peristiwa memalukan itu dibahas kali pertama pada 15 Mei lalu. Akhirnya keputusan final mengulang ujian diambil pada Sabtu (30/5) lalu. ''Pertimbangan kami menyangkut sekian banyak siswa. Kalau ujian ulang tidak dilakukan, ini sangat merugikan mereka,'' tutur pejabat asli Semarang itu.
Mungin mengatakan, bobot soal ujian ulang akan disusun setara unas yang berlangsung pada April lalu. Dengan demikian, kata Mungin, diharapkan kualitas unas ulangan tidak diragukan. Saat ini pihaknya telah menyiapkan ujian ulang itu. ''Kami berharap kecurangan tidak terjadi lagi,'' ucapnya.
Sementara itu, Direktur Centre for the Betterment of Education (CBE) Satria Dharma mengatakan, peristiwa itu sebagai tragedi dunia pendidikan. ''Jika siswa lebih memercayai kunci jawaban palsu yang beredar, artinya tidak ada kepercayaan terhadap proses pembelajaran yang berlangsung selama tiga tahun. Ini bencana bagi dunia pendidikan,'' ungkapnya.
Satria menilai, yang paling bertanggung jawab terhadap kasus itu adalah para kepala daerah, kepala dinas pendidikan, dan kepala sekolah. ''Karena itu, kasus ini harus diusut tuntas hingga ke pengadilan,'' jelas alumnus Unesa itu.
Karena merupakan sebuah kecurangan, menurut Satria, tidak seharusnya BSNP menggelar ujian ulang. ''Dalam persoalan ini, BSNP tidak boleh mengambil kebijakan mengulang unas. Itu kesalahan siswa sendiri yang lebih memercayai kunci jawaban palsu daripada apa yang telah mereka peroleh dari sekolah selama ini,'' tegasnya.
Kasus itu langsung ditanggapi Komisi X DPR RI. Kemarin komisi yang mengatur masalah pendidikan, seni, dan budaya itu mengadakan rapat intern tertutup. Wakil Ketua Komisi X Heri Akhmadi mengatakan, rapat tersebut menghasilkan beberapa keputusan. Yakni, membentuk panitia kerja (panja) untuk mengevaluasi menyeluruh unas.
Bahkan, malam ini (2/6) sekitar pukul 19.00 komisi akan memanggil Mendiknas Bambang Sudibyo dalam rapat kerja. ''Mendiknas harus menyikapi ini dengan sungguh-sungguh. Harus ada evaluasi total dan menyeluruh untuk unas,'' tegas anggota dewan dari dapil VII itu.
Heri mengatakan, komisi menyatakan sangat prihatin atas terjadinya kasus tersebut. Dia menengarai, kasus itu melibatkan orang dalam. ''Mereka (Depdiknas daerah, Red) bilang kalau itu terjadi karena siswa mendapat bocoran. Jelas tidak mungkin. Siswa tidak akan percaya kalau itu tidak dari orang dalam dan orang yang mereka percaya,'' katanya.
Karena itu, Komisi X mendesak Mendiknas segera mengungkapkan masalah yang terjadi di SMA-SMA tersebut dan menindak semua pihak yang terlibat. ''Kalau ada indikasi unsur pidana, kasus ini harus dilaporkan ke polisi,'' katanya.
Heri sendiri sempat melakukan sidak di sejumlah sekolah di daerah pemilihannya. Dari penelusuran itu, dia menilai modus kecurangan dilakukan dengan sangat sistematis dan melibatkan jaringan orang dalam. Mulai guru hingga panita ujian dari dinas pendidikan setempat. Caranya, salah seorang guru atau panitia yang ikut mendistribusi naskah soal mengambil salah satu soal. Dia lantas membuat kunci jawabannya.
''Nah, setelah itu baru disebarkan ke siswa. Penyebarannya bisa dengan cara SMS antarsiswa atau kertas-kertas dari guru yang mengawasi,'' katanya. Modus lain, kata Heri, bisa saja terjadi. Namun, untuk melakukan penelusuran yang detail, dia berharap upaya investigasi dari pihak kepolisian.
Kunci jawaban itu, kata Heri, barangkali benar. Namun, karena beberapa sekolah memiliki jenis soal berbeda, kunci jawaban itu tak cocok saat digunakan di SMA yang semua siswanya tak lulus itu. ''Bisa jadi di sekolah lain malah sukses dan semuanya lulus,'' katanya.
Heri yakin modus tersebut sudah lumrah digunakan sekolah-sekolah. Itu pula yang menjadi rahasia kelulusan mereka selama ini. ''Nah, kebetulan mereka yang gagal lulus itu sedang apes. Akhirnya jadi ketahuan. Coba kalau mereka lulus semua, pasti cara-cara tidak jujur itu tidak pernah ketahuan,'' kata anggota FPDIP itu.
Komisi X, kata Heri, juga menolak keputusan Depdiknas menurunkan Inspektorat Jenderal (Itjen) untuk menginvestigasi kasus tersebut. Sebab, Itjen tak pernah benar-benar menyelesaikan persoalan. Dari beberapa kasus pendidikan yang terjadi, Itjen malah memperkeruh suasana. ''Lihat saja kasus Sumatera dulu. Guru-guru diduga mendiktekan jawaban kepada siswa. Masak Itjen malah menyalahkan mereka yang melaporkan kejadian itu,'' katanya.
Komisi juga menolak kebijakan BSNP melakukan ujian ulang. Hal itu dinilai tidak adil bagi siswa lain yang dinyatakan tidak lulus. ''Bahkan, meski dianggap korban oknum guru pun, mereka tetap tak bisa melakukan ujian ulang. Para siswa kan ikut aktif melakukan kecurangan itu. Jangan sampai karena jumlah siswa yang tak lulus mencapai ribuan, kita jadi melanggar peraturan. Ujian ulang tak pernah ada dalam aturan,'' tegasnya.
Skandal itu juga menyeret Depdiknas ke sejumlah kasus lain yang selama ini tak banyak dibicarakan. Pembentukan panja unas juga untuk mengevaluasi semua program Depdiknas yang bermasalah.
Kasus itu adalah program jaringan pendidikan nasional (jardiknas), data dan statistik pendidikan, dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). ''Program jardiknas bahkan tidak jelas. Anggarannya besar, tapi tidak ada hasilnya. Malah data dan statistik pendidikan tidak jelas juntrungnya,'' tegas Heri. (kit/aga/iro)
Tantangan yang muncul juga:
Selasa, 02/06/2009 15:08 WIB
Seluruh Siswa Kelas 3 Tidak Lulus Rencana UAN Ulang SMAN 2 Ngawi Banjir Tentangan
Budi Sugiharto - detikSurabaya
Penambah rasa HARAM
Jumat, 05/06/2009 15:23 WIB
100 % Siswa Kelas 3 Tak Lulus
Siswa SMAN 2 Ngawi Akui Dapat Bocoran Via SMS
Sugeng Harianto - detikSurabaya
Ngawi - Dugaan para siswa kelas 3 SMAN 2 Ngawi mendapatkan jawaban UAN melalui SMS sedikit terkuak. Salah seorang siswa mengaku diriya hampir tiap malam mendapatkan bocoran jawaban yang dikirim ke handphone miliknya.
Informasi yang didapat dari keterangan salah seorang siswa berinisial Y, dia mengaku pada malam sebelum UAN berlangsung, baik dirinya maupun teman-temannya yang lain mendapatkan SMS jawaban UAN.
"Ada SMS kunci jawaban di ponsel saya, namun aku gak percaya SMS itu. Saya yakin kita mengerjakan sudah sesuai prosedur pelajaran yang kita dapat," ungkap Y saat ditemui di SMAN 2 Ngawi, Jumat (5/6/2009).
Bahkan hampir setiap malam, ungkap Y, dirinya selalu mendapat SMS bocoran soal sebanyak 60. Sayangnya, saat didesak dari siapa SMS itu, dia enggan untuk mengungkapkan pemberi bocoran.
"Jangan. Nanti saya kesalahan. Pokok hampir tiap malam saya maupun teman-teman dapat SMS bocoran soal," jelas Y, sambil mewanti-wanti agar namaya tidak disebutkan.
Kini, baik Y maupun teman-temannya memina agar pihak sekolah transparan dengan kebenaran kasus yang sudah mencuat. Dia tidak ingin, kasus UAN ulang yang diundur ini membuat dia dan teman-temannya shock.
(bdh/bdh)
Buah pikiran hampir sama blog teman :








Hidup adalah perjuangan.
Hidup adalah perjuangan. Sebenarnya UAN memang harus diadakan, ini karena untuk mengetahui seberapa besarkah pendidikan yang diperoleh oleh siswa yang mengikuti UAN tersebut. Apagunanya jika seorang siswa tiap hari bernagkat sekolah tetapi sebenar yang di cari disejolah tidak untuk belajar. Maka dari itulah perlu diadakan UAN kalu siswa tidak mampu menghadapi UAn berarti siswa tersebut belum siap menghadapi tantangan pendidikan dijenjang yang lebih tinggi.
Duch.., sdih ya liat pnddkn
Duch..,
sdih ya liat pnddkn skg...
Bwt adek2,,
jgn bljr pas mo UN aja ya,,
stiap saat qt hrz bljr giat,,
jd UN hnya jd jmbtan na aja..,
insyAllah lu2sna murni..
weleh-weleh
weleh-weleh
Bismillah... Assalamu'alaikum
Bismillah...
Assalamu'alaikum..
Hemat saya sebagai salah seorang mahasiswa pendidikan.. UN boleh-boleh aja, tapi bukan untuk mengukur keberhasilan lulus tidaknya siswa, tapi hanya untuk mengukur mutu pendidikan di Indonesia..
Dengan tujuan seperti itu insyaAllah pendidikan akan lebih baik dan tidak rusak seperti sekarang...
OK!!!!!!!!!!!!!!!!!
terus himbauan untuk para birokrat pendidikan agar lebih objektif dan bijak lagi menghadapi masalah pendidikan di Indonesia..
Semoga INdonesia di masa yang akan datang akan lebih baik lagi...........
Selama UN itu masih menjadi
Selama UN itu masih menjadi proyek negara (politisasi), maka TIDAK AKAN PERNAH ada PEJABAT maupun penjahi(a)t Indon nyang berani mengharamken pak Raden.
komen-atau tidak komen
komen-atau tidak komen ternyata UAN ulang sudah dilakukan
=))
edan, jika saya jadi
edan, jika saya jadi presiden, udah ku-bleklist itu tanpa ampun... menciderai jutaan hati orang
ck..tiap tahun pasti
ck..tiap tahun pasti bermasalah. emank kayaknya musti diganti cara penilaian kelulusan siswa
ini adalah negara yang
ini adalah negara yang berorientasi pada hasil. bukan pada proses. hasilnya barangkali sudah bisa dilihat dari buah karya para penggede negeri ini.
uan memang menakjubkan
kasihan anak2 sekarang, gara2
kasihan anak2 sekarang, gara2 UAN hidup mereka jadi stress ya.
weleh weleeeeeeh.. bosan
weleh weleeeeeeh.. bosan daaaah.. banyak pesanan HARAM... apa hareeem.. hehehe... cape deh
Salam Sayang
aku dah komen lom sih disini?
aku dah komen lom sih disini? perasaan udha deh.????
uan ??? huhuhuhu.....walo
uan ??? huhuhuhu.....walo sensasinya selangit...UAN tetep jijaaaaiiiiii.........hiaikzz...
sepengalamanku, UAN malah nggak membuat pintar, malah buat semakin bodoh, pasalnya, anak kelas 3, terutama SMA pastinya akan berpikir, bagaimana caranya yang penting aku lulus, jadi entah itu dia akan berangkat sekolah atau tidak, toh waktu kelas 3, UAN lah yang menentukan lulus tidaknya dia, hmm..asal tidak pernah bermasalah dengan guru aja yang dimana guru itu bisa menjebloskan kita ke jurang ketidaklulusan gara - gara UAS....
Ikut memanfaatkan suasana
Ikut memanfaatkan suasana "panas kampanye" Heboh juga jadinya yang Haram, yang panas dan juga rebutan ambalat
,iya neh......sekolah 3 taun
,iya neh......sekolah 3 taun cuman bwt ngejar ijasah.....
,bljarnya juga cuman pas UAN doang.....
,mslahnya Q juga ngerasa gitu...... Xp
pingin kembali ke jaman
pingin kembali ke jaman dahulu aja deh, semakin banyak orang pinter di jaman sekarang, semakin hanya mengandalkan OTAK tanpa melibatkan hati nurani...
UAN merusak moral semua orang
UAN merusak moral semua orang (tdk hanya siswa ) !!
Nilai Tinggi,harga mati ?!! kata2 itu lebih baik ditujukan kpd sekolah dan guru,bukan kepada para siswanya!!!
kasian ya harus ngulang UAN
kasian ya harus ngulang UAN lagi. emang ada ya ujian ulang?? kl dulu wkt casualcutie msh SMU yg ada ujian susulan, khusus buat anak yg ga bs ikut ujian krn sakit ato berhalangan. sebenarnya yg salah itu para siswa ato para guru??? kenapa setiap UAN selalu saja ada soal & kunci jawaban yang bocor??
Iya sih....kadang selama
Iya sih....kadang selama sekolahnya siswa slalu berhasil dan mendapatkan rangking. tapi setelah UAN anjlok nilainya...Apa bisa di jadikan tolak ukur....
memeng pendidikan indonesia
memeng pendidikan indonesia makin menghawatirkan
berarti balik lagi kayak
berarti balik lagi kayak dulu
sistem Ebtanas ya??
tapi ngga pake acara ngelingker2, jelimet
kalo esay, pilihan ganda pakai silang saya mau pak, soale itu lebih menonjolkan kemampuan otak ketimbang keberuntungan
Seperti dagelan saja. UAN
Seperti dagelan saja.
UAN gagal karena jelas mencontek malah di ulang
ini sistemnya bikin ketawa miris
nasib generasi kita digantungkan pada angka bukan keberhasilan penerapan
Semoga yang diambil keputusan
Semoga yang diambil keputusan yang lebih bijak ajach dech
wajah pendidikan kita,
wajah pendidikan kita, diboboki ra uwis-uwis
bonyok!!!
semakin menunjukkan kualitas
semakin menunjukkan kualitas generasi muda bangsa begajul ini.
demi sebuah gelar atau titel rela menempuh jalan yg tidak semestinya dilakukan
dohhhh
*ngelus dodo*
uan haram, setuju... (sambil
uan haram, setuju... (sambil emosi....nduleki laptop)
begitulah kalau keberhasilan
begitulah kalau keberhasilan pendidikan hanya diukur dengan angka
Saking pengennya lulus,
Saking pengennya lulus, segala cara ditempuh. Herannya..., mengapa seluruh siswa percaya pada sebuah SMS gelap ? Ketakutan tidak lulus UAN menyebabkan mereka hilang akal. Padahal seharusnya dari seluruh soal, pasti ada yang mereka bisa mengerjakan. Kenapa harus mencontoh mentah2 SMS itu ya, apalagi kalau mereka tahu itu salah ? Mengapa mereka begitu tidak percaya diri atas kemampuan sendiri ?
tekanan, biaya dan mental
tekanan, biaya dan mental
Hore..UAN haram.. haram kan
Hore..UAN haram..
haram kan berarti gak dihilangkan ya??
hik.hik padahal aku mengharapkan juga dihilangkan saja
Secara hukum jelas tidak
Secara hukum jelas tidak haram karena bentuk evaluasi pendidikan. Tapi kok yg pake kunci2an ngawi banyakan
ya. Yang terpenting adalah transfer pengetahuan bukan dongkrak nilai, pengalaman saya interview dgn byk org yg bernilai tinggi sejak SD memang penyerapan ilmunya bagus. Kalo ya mendadak bagus lebih banyak gak tau apa2 dan yang nilainya standar malah secara praktis lebih cerdas.
Entah bagaimana jadinya
Entah bagaimana jadinya output dari generasi angka seperti ini. Yang jadi korban kok ya generasinya. Bukan yang meletakkan kebijakan itu sendiri. Ironis.
astaghfirullahal'adhim....
astaghfirullahal'adhim....
hua.. haram ya ?? repot juga
hua.. haram ya ?? repot juga ya mas.. pendidikan-pendidikan hehehe
astaghfirullahal'adhim.... bt
astaghfirullahal'adhim....
btw, mbaca signature berita yang atas (BDH/BDH). artinya, pelaku dalam berita itu bodoh-bodoh?
apa benar UAN bisa dijadikan
apa benar UAN bisa dijadikan satu2nya tolak ukur keberhasilan siswa?
semoga semuanya lebih baik
Sejak lama saya tidak setuju
Sejak lama saya tidak setuju dengan sistem pendidikan yang menyesatkan ini. Memang terlihat dan terdengar bagus dari luar, tapi didalamnya penuh dengan cara-cara yang licik. Saya lebih setuju sistemnya dikembalikan seperti dulu dimana sekolahlah yang memiliki hak untuk menentukan siswanya lulus atau tidak. Walaupun itu juga tidak menutup kemungkinan adanya kecurangan, tapi lebih terlihat tidak ada sesuatu yang dipaksakan.
UAN mereduksi konsep belajar
UAN mereduksi konsep belajar dari yang tadinya belajar untuk menjadi tahu, menjadi belajar agar lulus ujian. Evaluasi memang ada dalam proses pendidikan, tapi evaluasi tetap bukan proses inti pembelajaran.
halah, mosok yang kayak gini
halah, mosok yang kayak gini juga harus main haram-haraman mas, sampeyan iki isok ae. jujur saja, saya bingung apakah harus prihatin ato ketawa liat nasib anak-anak yang ndak lulus gara-gara kunci palsu ini
ketawa ngakak sambil ngelus
ketawa ngakak sambil ngelus dada ae mas... wis celaka beneran jaman sekarang...
gara2 UAN siswa malah cuma
gara2 UAN siswa malah cuma diajari bagaimana mengerjakan soal
Pingback
[...] Sudah menjadi rahasia umum, bahwa Unas harus DISUKSESKAN oleh SEMUA PIHAK. Berbagai cara licik pun ditempuh oleh guru, siswa dan juga orang tua. Unas juga sarat dengan aroma ancaman. Bupati atau walikota mengancam kepala dinas, kepala dinas mengancam kepala sekolah. Siapa yang rela kehilangan jabatan? Kepala sekolah pun berkoordinasi untuk saling bekerjasama mensukseskan Unas. Tim pengawas yang dibuat saling silang pun percuma tak berguna. Tim pengawas telah mendapatkan amanah untuk mensukseskan Unas di sekolah yang mereka awasi. Bagaimana modusnya? Ada yang membantu mengerjakan soal. Ada yang membantu kemudahan distribusi jawaban. Ada yang terang-terangan menyalahi prosedur. LJK harus dimasukkan dalam amplop dan disegel di ruang ujian! Ah itu cuma prosedur! Kenyataan di lapang adalah LJK bisa dikoreksi lagi oleh guru atau panitia. Alasannya untuk mencek isian biodata peserta. Mungkin bukan hanya biodata peserta, guru yang kreatif bisa juga membantu mengoreksi isian jawaban. Yakinlah, bahwa itu semua sudah dicatat oleh tim pengawas independen. Yakinlah pula bahwa itu semua sia-sia jika semua pihak telah diberikan amanah untuk MENSUKSESKAN UNAS.Saya menulis ini bukan karena saya tidak peduli dengan nasib siswa-siswi SMAN 2 Ngawi. Justru saya ingin menyelamatkanmu nak! Menyelamatkan seluruh anak-anak Indonesia! Apalah arti lulus Unas? Apa pentingnya Unas? Jika hanya menuhankan angka. Jika menghalalkan segala cara. Jika hanya belas kasihan. Dunia masih luas nak! Masih ada tahun depan! Allahu Akbar!!! Mengingat mudharat Unas lebih banyak daripada manfaatnya. Mengingat Unas men-Tuhan-kan angka sehingga syirik. Maka, sudah selayaknya MUI memfatwakan Unas HARAM [...]
Pingback
[...] Sudah menjadi rahasia umum, bahwa Unas harus DISUKSESKAN oleh SEMUA PIHAK. Berbagai cara licik pun ditempuh oleh guru, siswa dan juga orang tua. Unas juga sarat dengan aroma ancaman. Bupati atau walikota mengancam kepala dinas, kepala dinas mengancam kepala sekolah. Siapa yang rela kehilangan jabatan? Kepala sekolah pun berkoordinasi untuk saling bekerjasama mensukseskan Unas. Tim pengawas yang dibuat saling silang pun percuma tak berguna. Tim pengawas telah mendapatkan amanah untuk mensukseskan Unas di sekolah yang mereka awasi. Bagaimana modusnya? Ada yang membantu mengerjakan soal. Ada yang membantu kemudahan distribusi jawaban. Ada yang terang-terangan menyalahi prosedur. LJK harus dimasukkan dalam amplop dan disegel di ruang ujian! Ah itu cuma prosedur! Kenyataan di lapang adalah LJK bisa dikoreksi lagi oleh guru atau panitia. Alasannya untuk mencek isian biodata peserta. Mungkin bukan hanya biodata peserta, guru yang kreatif bisa juga membantu mengoreksi isian jawaban. Yakinlah, bahwa itu semua sudah dicatat oleh tim pengawas independen. Yakinlah pula bahwa itu semua sia-sia jika semua pihak telah diberikan amanah untuk MENSUKSESKAN UNAS. Saya menulis ini bukan karena saya tidak peduli dengan nasib siswa-siswi SMAN 2 Ngawi. Justru saya ingin menyelamatkanmu nak! Menyelamatkan seluruh anak-anak Indonesia! Apalah arti lulus Unas? Apa pentingnya Unas? Jika hanya menuhankan angka. Jika menghalalkan segala cara. Jika hanya belas kasihan. Dunia masih luas nak! Masih ada tahun depan! Allahu Akbar!!! Mengingat mudharat Unas lebih banyak daripada manfaatnya. Mengingat Unas menuhankan angka sehingga syirik. Maka, sudah selayaknya MUI memfatwakan Unas HARAM [...]
Pingback
[...] terkait : * Nilai Tinggi, Harga Mati * Haramkanlah uan * Ilmu Curang * Gagalnya Sebuah Negara * Satu Lagi Korban UU ITE [...]
kasian juga sbnrnya
kasian juga sbnrnya mereka
lah dulu waktu aku sekolah keknya gak kek gini deh nakutinnya ujian negara
Anak sekolah terlalu di
Anak sekolah terlalu di paksakan belajar untuk mengejar angka tersebut
menurut saia Yang patut di haramkan adalah nilai nya bukan UAN nya.
Nggak usah diharamkan
Nggak usah diharamkan deh,.... lebih baik dihentikan aja.
Ketakutan akan sindrom pecah
Ketakutan akan sindrom pecah ndase dan males belajar telah membuat lebih percaya pada kunci jawaban daripada kemampuan diri sendiri,hingga mengakibatkan pecahe ndase bocah.
Andai 334 siswa itu lulus dengan IP rata-rata 9,9 kira-kira minta di ulang ndak yah..???
UAN tidak harus di ulang,mending tidaaakkk..!!!
Tapi kalo mengulang setahun lagi..,itu baru OK n sportif..hehhh..
sudah terlalu lama negeri ini
sudah terlalu lama negeri ini memberhalakan angka2, mas surya. hakikat pendidikan pun hanya sebatas diukur berdasarkan angka2. akibatnya nilai, budi pekerti, dan karakter tak pernah tersentuh. kasus di ngawi dan daerah2 lain makin menunjukkan betapa parahnya pemahaman birokrat pendidikan kita dalam memandang UN sebagai evaluasi akhir yang mesti ditempuh siswa. dalam ketentuan UN memang tak dikenal istilah ujian ulang. yang ada hanya ujian susulan bagi sisa yang dinyatakan sakit atau ujian kesetaraan bagi siswa yang tidak lulus. namun, dalam kasus di ngawi, saya melihat. siswa justru yang jadi korban ambisi pejabat yang ingin mendongkrak kelululusan siswa dg cara2 yang curang dan memalukan. ini bukan murni kesalahan siswa. dalam kondisi nervous, iming2 bocoran kunci jawaban bisa meruntuhkan rasa percaya diri anak2 yang berotak cemerlang.
betul pak
betul pak
Post new comment