
01/08/2010 - 13:47
Karya seni penulisan berbalut data non fiksi 'Epitaph' karya Daniel Mahendra, disamping memukau karena anyaman kata maupun alur yang dirobek-robeknya menjadi semacam puzzle yang jika dibaca harus urut menunjukkan nuansa tersendiri selain seni menulis yang handal. Nikmatnya membaca novel ini adalah seperti ketika anda mendaki gunung atau melakukan perjalanan pulang ke rumah dimana memang arahnya jelas dan tidak boleh sesobek waktupun terbuang percuma, seakan ada penantian disana dan tidak boleh tidak memang harus sampai. Entah setan apa yang merasukinya bisa membuat kalimat-kalimat yang sederhana namun bisa menyayat perasaan pembacanya, tidak bertele-tele, namun bisa mewakili dengan kuat peristiwa yang terjadi pada detik itu.
Novel Trilogi Epitaph yang terdiri dari Epitaph, Epigraph dan Epilog, ketika semuanya dibaca mungkin akan memberikan sesuatu yang lebih kaya lagi, karena memang pada Epitaph masih banyak hal yang menjadi lobang sehingga pembaca harus rela untuk menunggu kelanjutannya, masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang otomatis dan seketika masuk ke alam bawah sadar, disamping karena penguatan-penguatan peristiwa yang dengan nakalnya sengaja di buat pengulangannya. Repetisi-repetisi yang mencengangkan jika kita bisa menyambungkan keadaan yang dialami warga di negara ini.
Daniel Mahendra, secara gamblang dan menusuk perasaan menggambarkan bagaimana rasanya menjadi korban yang tidak berdaya. Melawan institusi kecil namun bersenjata dan angkuh yang dibuat bukan karena asas kemanusiaan, mengharamkan kata maaf demi menutupi boroknya sendiri. Hmm.. memang begitulah kondisi bangsa kepala batu tersebut. Bahwa nyawa seseorang tidak ada artinya dibandingkan dengan harga dirinya yang memang memiliki karakter menginjak. Terlepas dari apapun perspektif memandang kehidupan dari ranah korban sangatlah penting untuk selalu disimak, sehubungan dengan trah kepala batu yang semakin lama dan semakin parah saja menghiasi perjalanan kemerdekaan.
Masih lebih banyak lagi nilai-nilai yang dibangun dalam novel Epitaph, semoga saja bisa menyemaikan dan mengurangi kebiasaan kepala batu atas banyaknya tindakan keserakahan, yang menular dan banyak insan tidak bisa menghindarinya namun menikmatinya. Sekali lagi semoga saja pesan-pesan yang terangkum dalam novel Epitaph yang indah ini bisa tersampaikan kepada para pembaca secara sadar, bukan hanya masalah penulisan maupun yang bagaimanapun itu adalah hak sang penulis dalam menorehkan pesan dan gayanya dalam novel setebal viii + 358 halaman, terbitan Kaki Langit Kencana, tahun 2009.

waw...bikin saya penasaran
waw...bikin saya penasaran ...
ngomong-ngomong kemana aja nih mas dah lama ga nongol
Nice work on your site i love
Nice work on your site i love to come here to read you more.
Thanks for sharing nice
Thanks for sharing nice information with us. i like your post and all you share with us is uptodate and quite informative.
I am continuously reading you
I am continuously reading you as you are doing really nice work every time and make your readers proud on you and i stuck here again and again.
I like your post its quite
I like your post its quite informative and i love to visit you again as you have done a wonderful job. i love to bookmark this site and would send it to other friends to read it and visit it to get upto date and quite interesting information.
Mencoba membeli dan membaca,
Mencoba membeli dan membaca, kelihatannya menarik
wah..d review pak atok, mesti
wah..d review pak atok, mesti apik iki... kudu moco!
nang gramed ada gak?
nang gramed ada gak?
kayanya bagus nih.. tapi
kayanya bagus nih..
tapi ngomong2 saya masih belum nangkap ceritanya gimana...
oon jg nih otak
belum pernah baca kayaknya
belum pernah baca
kayaknya menarik mas
bisa dibaca dilain waktu
Post new comment