
09/13/2009 - 05:54
Setahun sudah balada epidemi kerusakan kapitalis melanda dunia, krisis ekonomi global yang meski tidak terasa di negeri begajul -siapa bilang- menjadikan saya teringat ketika melewati tikungan-tikungan jalan gunung Kumitir antara Jember dan Banyuwangi, dimana saat itu adalah ketidaksopanan yang terbukti dengan jelas bahwa jika orang datang ke Banyuwangi selalu lewat Genteng, bukan lewat Lawang seperti jika akan bertandang ke kota Malang. Saat itu ada hal yang menarik di ketinggian tanah alas Kumitir dan rimbunnya hutan karena ada penunjuk sebuah stasiun kereta api, Stasiun Mrawan namanya yang tentusaja terletak lebih dari 500 meter diatas permukaan laut, dan tentunya melalui tanjakan maupun terowongan sebab hanya sekali sepertinya di jalan itu melewati perlintasan kereta api.
Rasa penasaran tersebut tentunya harus dipuaskan dengan melihat sendiri stasiun Mrawan, dimana bayangannya adalah dari kata Mrawan, berasal dari kata dasar Perawan-kah, atau apa yang berhubungan dengan awan tentunya tidak ada dalam bahasa jawa kecuali awan yang berarti siang hari. Ternyata Mrawan adalah sebuah kampung dalam sebuah perkebunan besar yang karena sudah lama saya lupa namanya, entah perkebunan Kalibaru atau Mrawan juga lupa. Tidak seperti bayangan awal karena ke stasiun Mrawan harus melalui jalan menurun sepanjang kira-kira satu kilometer, kemudian naik lagi baru ketemu stasiun tersebut, dimana di sebuah gunung yang sepi tersebut ada perkampungan dimana diatasnya adalah terowongan, jembatan kereta api, stasiun kemudian terowongan Mrawan seperti dalam foto yang panjangnya kira-kira 700 meter. Dibangun mulai 1901, selesai tahun 1902, dan operasional pada tahun 1910.
Segera saja terbayang analogi negeri begajul atas kapitalisme seperti dalam game Tycoon yang dahulu pernah ngetop, bahwa perkampungan tersebut adalah negeri begajul dimana dilewati diatasnya adalah jembatan kemakmuran modal yang hanya lewat meninggalkan debu dan polusi suara. Untuk kemudian hilang dalam kegelapan terowongan, dan hanya berhenti sebentar di stasiun Mrawan, itupun menunggu penumpang yang tidak banyak jumlahnya. Juga bayangan kengerian atas tingginya jembatan kereta api, dan bukit-bukit yang melingkari kampung tersebut, betapa Mrawan juga bisa berarti "Rawan" bencana. Tidak berharap seperti itu, namun bencana kapital yang hanya lewat saja, namun melalui jembatan kokoh yang tingginya minta ampun, pastilah jika mereka ambruk, para jelata yang tidak pernah melihat dan hanya mendengarkan suaranya saja juga terkena akibat dari 'riffle effect' yang ditimbulkannya.
Sama sekali tidak berharap jika terjadinya gempa keuangan saat ini adalah rangkaian dari gempa besar keuangan setahun yang lalu dimana raksasa keuangan macam Merrill Lynch dan Lehman Brothers ambruk dan pemerintah Amerika harus melakukan bail out dengan uang yang jika bentuknya recehan dua ribuan baru itu mungkin bisa memenuhi pulau Jawa jika dijejer-jejer -bukan genjer-genjer loh-. Lebih celaka lagi ketika ada rombongan lembaga pemberangusan korupsi kok malah diperiksa atas dugaan suap. Sudah berapa kali bail out dilakukan, dengan nama dan bahasa yang sangat dihaluskan dahulu sebagai penyehatan perbankan nasional, mirip posyandu bagi anak balita di kampung sebelah yang malah sudah tidak didanai dengan tulus itu. Memang ketika manusia sudah tidak lagi bisa memaafkan kemiskinan, memahami arti kemiskinannya, namun teracuni dengan hawa segar roti beracun kekayaan duniawi, mereka akan tumbuh berkembang menjadi begajul yang mengangkat kapak perang bermerk 'mengentaskan kemiskinan', 'memerangi kemiskinan' dan lain sebagainya, syukurlah jika dengan cara yang bijak. Namun dengan banyaknya kenyataan bahwa mereka mengangkat kapak yang salah, dan saling membunuh saudara sebangsanya sendiri. Saling mengais harta yang bukan haknya, menjual kekayaan negeri, mengharamkan sedekah anonim dan sebagainya.
September memang bulan yang sangat istimewa dimana banyak sekali momentum yang pernah dilahirkannya, dan dibulan ini pulalah setahun sudah epidemi kerusakan kapital berlalu, setelah adanya peristiwa 9/11, yang menjadi point of no return untuk masalah terorisme, anti jihad dan banyak lagi, plus kata 'bail out' yang kondang lagi di negeri begajul,... hmmm selamat ulang tahun sang epidemi ataukah sebagaimana Terowongan Mrawan yang senyap, gelap dan mempesona itu... meski sudah seabad lebih dan tentu saja 'heritage' karena peniggalan penjajah eh.. masa lalu.

secara sistem memang rusak
secara sistem memang rusak tapi karena sudah menyentuh ke dalam lubuk hati sanubari yang paling dalam, rasanya kok terlalu dini menyebut kapitalis mengalami kerusakan atau kemunduran
Salam Cinta Damai dan Kasih
Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabatku terchayaaaaaaaank
I Love U fuuulllllllllllllllllll
Tertunduk ku dimalam
Tertunduk ku dimalam ini
Terdiam mencoba berucap nada CINTA
Alunan Zikir alam semesta sayup terdengar
menyapa mesra diri lemah tiada daya
kudengungkan dalam qolbu terdalam
Nyanyian pengagungan dan penyembahan
Hadirkan diri dalam CINTA membara
Perlahan tapi pasti getar menyambut
Bagaikan gelombang membuat diri tergetar
Hanyut sudah dalam buaian syahdu
Diri hilang lenyap dalam pangkuanNYA
Terang benderang padang terawangan..
hilang.. lenyap.. tiada keberadaan..
doooooh nikmaaaaatnyaa
Hem, Mbanyuwangi.... Rumah
Hem, Mbanyuwangi....
Rumah asalnya "dia", seorang yang terdahulu....
aku malah baru tau nie....
aku malah baru tau nie....
Wouw,... sebuah ulasan dari
Wouw,... sebuah ulasan dari pengamat ekonomi yang mantap...
Terowongan Mrawan, belum masuk,.... jiwa sudah menerawang apakah didalamnya agak rawan yah?
aku dah komen apa blom ya?
aku dah komen apa blom ya?
nek trowongan Ngijo sampean
nek trowongan Ngijo sampean tau lewat rung mas hehehe menggko trus dadi ijo nek ndelok duwit wkwkwkwkwkwkwkw takon endar nek ra percoyo
opo aku ndadak posting goa
opo aku ndadak posting goa seplawan sing mbiyen wis nate tak ukur lan tak gambar
wah keren bgt itu warna cat
wah keren bgt itu warna cat nya hehhee..ga nyambung yah
Post new comment