
05/18/2009 - 01:21
Menjadi orang miskin adalah sebuah kesalahan dan dosa besar, tidak ada tuntunan agama apapun yang mengajak untuk miskin, karena jelas tidak bisa bersedekah, menunaikan ibadah dengan khusyuk, dan lain sebagainya. Mungkin itu benar dan memberikan semangat untuk berlomba-lomba menjadi kaya melalui bermacam usaha yang sebisanya dilakukan. Namun ternyata menjadi kaya juga sebuah persoalan besar untuk dapat dicapai karena maraknya persaingan usaha hingga jegal-menjegal dalam peraturan tata kota maupun menjadi seseorang yang bisa mengakses perbankan. Sementara untuk bisa mengakses bank haruslah memiliki barang yang bisa dijaminkan, dengan prediksi harga jual yang semau bank, sekaligus character assasination karena jelata, melarat, miskin sehingga tidak pantas pinjam ke bank.
Agak ganjil juga pidatonya sang mantan Gubernur Bank dalam ketinggian ilmu ekonominya ketika pendeklarasianya menjadi cawapres yang mengatakan akan mengusung ekonomi kerakyatan, demikian pula para kontestan yang lainnya. Pertanyaannya adalah Ekonomi kerakyatan macam apa yang akan mereka usung tentunya dengan program dan tujuan pelaksanaan yang jelas dan harus berpihak kepada rakyat jelata yang menduduki peringkat 80 persen selalu, tidak nambah maupun turun. Sementara bank hanya bisa diakses oleh para pengusaha kelas menengah keatas secara full, dengan diskriminasi kepada rakyat jelata yang biasanya hanya mendapatkan separoh dari proposal kreditnya, meski mereka rajin membayar cicilan, namun karena hal itulah maka para jelata harus mengakses bank plecit (rentenir) yang bunganya naudzubillah..., jika mau jujuir kekuatan hidup mereka lebih hebat dibandingkan kelas menengah yang kadang malah kreditnya macet.
Selama ini rakyat jelata khususnya petani, meskipun memiliki lahan yang luas namun harus kalah dan menerima apa adanya dengan logika kemitraan dengan perusahaan-perusahaan besar, mengapa harus mengalah karena ada kontrak harga jual dan hasil yang ditandatangani di muka, perkara nanti harganya naik sudah bukan tanggungjawab peneken kontrak, segitu ya segitu, jika tidak maka salah satu akan wan prestasi. Meskipun ini banyak terjadi namun hanyalah sebuah ilustrasi belaka, tanpa menuduh sana dan sini...
Nasib, mungkinkah...terbawa juga dalam masalah tata kota, sudahkah hak dasar masyarakat terpenuhi semisal dalam hal pembuangan sampah, mandi, maupun buang air besar maupun kecil, sudahkah semuanya tersedia, jika belum maka jangan salahkan mereka yang kencing sembarangan, bukankah hal sepele semacam ini adalah kebutuhan biologis dan mendasar yang harus dipenuhi penyelenggara lingkungan dan kota. Seperti ketika gempa memporak-porandakan DIY yang lalu, dengan seenak hati para pengusaha menaikkan harga bahan bangunan, memang kekuatan untuk membangun secara swadaya ada namun ketika harga naik dan tidak ada kontrol dari yang memiliki kekuasaan maka ketidakadilanpun terjadi dan rakyat jelata hanya bisa megap-megap, meski suara adzan terdengar jauh dengan speaker ratusan watt dari masjid-masjid, tuhan mendengar namun penguasa dan pengusaha mengikuti tujuan hidupnya untuk dunianya sendiri.
Ekonomi rakyat berkembang secara alamiah dan natural, pasar-pasar di desa yang tumbuh dan bermunculan secara spontan, bahkan juga di kota, tidak terencana menjadi ramai dan memiliki arus jual beli yang setiap hari naik, diawali dengan bangunan non permanen, kemudian berubah menjadi kios-kios, alangkah lebih baik ketika pasar-pasar tiban tersebut dipelihara, bukan dirusak, difasilitasi bukan dipindah, diperindah bukan dibakar, tidak dengan serta merta harus dipindah alokasikan ke tempat yang jauh dari pemukiman, sehingga sepi pembelinya. Sementara para pengusaha besar bisa dengan seenaknya membangun mall-mall yang megah di keramaian kota. Ketika mencanangkan ekonomi kerakyatan alangkah indahnya jika para bijak bestari pemilik kuasa itu lebih ramah kepada kondisi unpredictable seperti ini, karena dengan memiliki warga yang mandiri lebih mudah pula untuk memberikan layanan berbayar dalam kesehatan maupun yang lainnya, dan itupun adalah penghasilan daera, sedikit mungkin namun semuanya lega.
Beliau sang mantan gubernur bank inipun mengatakan bahwa ada beberapa hal yang tidak terkait dengan ekonomi global, mungkin bisa diterima nalar, namun apabila harga bahan bakar yang melonjak drastis dari 2500 rupiah, naik tiga kali hingga 6500, dan sekarang turunnya cuman jadi 4500 rupiah, dan berpengaruh langsung kepada persendian ekonomi nasional apa enggak ngelindur sampeyan pak..., perbedaan prinsip antara jelata miskin dan jelata pengusaha adalah jika dalam menghadapi krisis ekonomi seperti ini para pengusaha kaya akan mencoba bangkrut untuk segera menyelamatkan asset-assetnya, namun para jelata miskin akan kehilangan penghidupannya dan mencari selamat untuk bisa hidup sampe besok sore.... semoga ini bukan Eksploitasi Demokrasi untuk mendapatkan lobang kenikmatan menjadi penguasa nomer wahid negeri begajul.
Mengutip Professor Mubyarto sang begawan ekonomi kerakyatan dalam artikelnya di tahun 2004:
SIAPA LEBIH MERUSAK LINGKUNGAN: ORANG MISKIN ATAU ORANG KAYA?
The greatest threat to the equilibrium of the environment comes from the way the economy is organized... ever increasing growth and accumulation (Ravaioli, 1995: 4)
- Jika hutan kita menjadi gundul atau terbakar, sehingga lingkungan hidup kita rusak, siapa biang keladinya? Penduduk miskin di hutan-hutan dan sekitar hutan menebang hutan negara untuk memperoleh penghasilan untuk makan. Tetapi kayu-kayu yang diperolehnya ditampung calo-calo untuk dijual, dan kemudian dijual lagi untuk ekspor, yang semuanya “demi keuntungan”. Siapa yang paling bersalah dalam proses perusakan lingkungan ini? Yang jelas tidak adil adalah kalau yang disalahkan hanya orang-orang miskin saja, sedangkan orang-orang kaya adalah “pahlawan pembangunan”.
- Apabila dikatakan penduduk miskin terbiasa ... “membuang kotoran manusia secara sembarangan yang akan berakibat pada terjangkitnya diare ...” atau “penduduk miskin hanya menekankan pada upaya pemenuhan kebutuhan dasar untuk bertahan hidup, dan mereka cenderung mengabaikan pemeliharaan lingkungan sekitar”, kiranya pernyataan ini juga tidak adil. Pemenuhan kebutuhan pokok penduduk miskin bukan masalah “hanya”, tetapi “mutlak” harus dipenuhi untuk hidup. Penduduk miskin tidak memperhatikan lingkungan hidup sekitarnya bukanlah karena mereka tidak peduli, tetapi karena mereka melakukannya dengan terpaksa.
- Agar adil kita harus mengakui bahwa kerusakan lingkungan khususnya hutan, disebabkan para pemodal yang haus keuntungan, “memesan” kayu dalam jumlah besar sebagai bahan baku industri yang memang permintaannya sangat besar pula. Akumulasi keuntungan dan kekayaan yang tidak mengenal batas harus dianggap sebagai penyebab utama kerusakan/pengrusakan hutan, bukan karena orang-orang miskin banyak yang merusak hutan. Maka untuk menjamin terjadinya pembangunan yang berkelanjutan kita harus menghentikan keserakahan orang-orang kaya. Adalah sangat keliru ilmu ekonomi justru memuja “keserakahan”.
- Perkembangan pedagang kaki lima (PKL) yang tumbuh menjamur dimana-mana, yang dianggap merusak lingkungan karena mengotori jalan dan mengganggu ketertiban, juga tidak mungkin ditimpakan kesalahannya pada PKL karena pekerjaan itulah satu-satunya “mata pencaharian” yang dapat dilakukan dalam kondisi kepepet. Ia menggunakan modal sendiri dengan resiko usaha ditanggung sendiri, tidak ada subsidi apapun dar pemerintah, dan memang ada pembeli terhadap barang/jasa yang ditawarkannya. Jadi dalam hal ini lingkungan yang rusak harus diselamatkan melalui upaya-upaya “pencegahan” munculnya PKL, bukan dengan “menggusurnya” setelah berkembang. PKL bukan “masalah” tetapi ”pemecahan” masalah kemiskinan.
- Kesimpulan kita, pendekatan terhadap masalah “pengurangan kemiskinan dan pengelolaan lingkungan” atau sebaliknya terhadap “pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dan strategi penanggulangan kemiskinan” selama ini kiranya salah dan tidak adil, karena melihat kemiskinan sebagai fakta tanpa mempelajari sumber-sumber dan sebab-sebab kemiskinan itu. Akan lebih baik dan lebih adil jika para peneliti memberi perhatian lebih besar pada sistem ekonomi yang bersifat “serakah” dalam eksploitasi SDA, yaitu sistem ekonomi kapitalis liberal yang berkembang di Barat, dan merajalela sejak jaman penjajahan sampai era globalisasi masa kini. Sistem ekonomi yang tepat bagi Indonesia adalah sistem ekonomi pasar yang populis dan mengacu pada ideologi Pancasila dengan lima cirinya sebagai berikut:
- Roda kegiatan ekonomi bangsa digerakkan oleh rangsangan ekonomi, sosial, dan moral;
- Ada kehendak kuat warga masyarakat untuk mewujudkan kemerataan sosial yaitu tidak membiarkan terjadinya dan berkembangnya ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial;
- Semangat nasionalisme ekonomi; dalam era globalisasi makin jelas adanya urgensi terwujudnya perekonomian nasional yang kuat, tangguh, dan mandiri;
- Demokrasi Ekonomi berdasar kerakyatan dan kekeluargaan; koperasi dan usaha-usaha kooperatif menjiwai perilaku ekonomi perorangan dan masyarakat;
- Keseimbangan yang harmonis, efisien, dan adil, antara perencanaan nasional dengan desentralisasi ekonomi dan otonomi yang luas, bebas, dan bertanggung jawab, menuju pewujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
6 Oktober 2004
Prof. Mubyarto - Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM, Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM.
sumber dari sini








memang sungguh menyedihkan
memang sungguh menyedihkan hidup miskin di negara yang kaya SDA-nya.
miskin adalah pilihan bukan
miskin adalah pilihan bukan kesalahan. ini dibuktikan dari sunah Rosul SAW " Alloh SWT Tidak akan merubah nasib seseorang kecali dirinyalah yang merubah nasibnya sendiri"
Pingback
[...] bencana dan permasalahan harus menggeliat dan bangkit. Warga kota harus bisa mudik membawa misi Ekonomi Kerakyatan semampunya. Mencoba untuk kembali dan membelanjakan hasil jerih payah di daerahnya, membagi-bagikan [...]
Pingback
[...] kaki lima, yang kena gusur dan sampai dibakar tempatnya berdagang. Lha katanya untuk mendongkrak Ekonomi Kerakyatan, rakyat harus dilatih menjadi wirausaha. Nah ketika mereka beride untuk beruwirausaha, kok malah di [...]
Pingback
[...] dan layanan perbaikan ekonomi semata yang mengarah pada kaburnya aras kebangsaan dan kearifannya. Ekonomi Kerakyatan nantinya tidak lebih hanya sebuah jargon sebagai peredam gejolak konflik, hanya bersifat dan [...]
Sebetulnya semua pemimpin
Sebetulnya semua pemimpin pro-rakyat hanya saja yang lainnya terlambat menyuarakan atau kalah ngomong sekian detik saja, yang jelas bangsa ini, ekonom ini, pejabat ini, bisa menyetir bisa mengendalikan, bisa menjinakkan kuda hitam yang santer di sebut neolib kalo dah bisa takluk itu kuda hitam mantab jalannya. Yes....bangsa ini, yes...rakyatnya, dipikir-pikir semuanya pada saat ini kok lupa yang namanya demokrasi ekonomi pancasila yang soko guru ekonominya koperasi ya...?
Pingback
[...] melihat kehidupan sosial yang ternyata hanya merupakan angan-angan semata sebagaimana halnya ekonomi kerakyatan yang cukup berhasil membuat ontran-ontran character assasination. Menjadi sebuah lakon baru dalam [...]
Pingback
[...] operasi ini juga masih mendukung Processor Intel 300 MHz dengan memori 256 MB, bwahaha... inget Ekonomi Kerakyatan jadinya... coba aja pasang Jendela XP ke CPU Intel Processor 300 MHz dengan memori SDRAM 256 MB, [...]
Ekonomi Kerakyatan itu apa ?
Ekonomi Kerakyatan itu apa ? Keadaan ekonomi di kalangan rakyat kecil atau miskin ? Atau segmen ekonominya orang kecil yang serba lemah ? Jika ekonomi kerakyatan seperti tersebut diatas, memang sekarang ini kan sudah ada sebagai realita. Kalau kebijakan seperti BLT, pemberian hutang modal kerja, atau dana bergulir seperti yang sering dilaksanakan, kan sudah mencapai dana ratusan milyar, bahkan mungkin triliunan, dengan maksud untuk menanggulangi kemismikan, Tetapi angka kemiskinan tidak menjadi surut. Jadi menurut pandangan saya, Jadi kalau kita ingin mengusung EKONOMI KERAKYATAN maka harus dipandang sebagai SISTEM EKONOMI yang bisa mengangkat rakyat miskin menjadi sejahtera. Tetapi bagaimana bentuk operasionalnya, agar setiap orang dapat bekerja menurut kemampuannya dan memperoleh penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang layak ? Sumber Daya Alam negara kita kurang apa, tanah subur, kandungan berbagai mineral dan SDM kita banyak yang ahli dalam berbagai bidang. Kita cenderung hanya ingin gampangnya saja, tidak mau bersusah payah menciptakan sendiri teknologi untuk mengolah sumber daya alam. Para pemilik modal besar senengnya menjadi agen pemasaran produk asing. Jangankan produk-produk berteknologi tinggi. Produk pertanian seperti jagung, kedele dan paha ayam saja harus impor, .........(Sampai disini dulu, lain kali kita sambung lagi )
Pingback
[...] operasi ini juga masih mendukung Processor Intel 300 MHz dengan memori 256 MB, bwahaha… inget Ekonomi Kerakyatan jadinya… coba aja pasang Jendela XP ke CPU Intel Processor 300 MHz dengan memori SDRAM 256 [...]
Pingback
[...] operasi ini juga masih mendukung Processor Intel 300 MHz dengan memori 256 MB, bwahaha… inget Ekonomi Kerakyatan jadinya… coba aja pasang Jendela XP ke CPU Intel Processor 300 MHz dengan memori SDRAM 256 [...]
Pingback
[...] operasi ini juga masih mendukung Processor Intel 300 MHz dengan memori 256 MB, bwahaha… inget Ekonomi Kerakyatan jadinya… coba aja pasang Jendela XP ke CPU Intel Processor 300 MHz dengan memori SDRAM 256 [...]
Pingback
[...] http://www.suryaden.com/content/ekonomi-kerakyatan [...]
Pingback
[...] di negeri begajul itupun harus mengusung dua mata pisau yang aneh pula yaitu neoliberalisme dan ekonomi kerakyatan meski harus dengan mengcharacter assasination antar sesama calon. Hal ini memang mendekati [...]
Sekarang ini orang meributkan
Sekarang ini orang meributkan tentang ekonomi. Yang satu mengatakan, "anti neoliberal!!!" yang lain menyerukan "ekonomi kerakyatan!!!" Rasanya aneh mendengarnya, karena seolah-olah ekonomi sudah berevolusi menjadi spesies-spesies yang berbeda. Sepertinya, ada mahluk "neoliberal" sedangkan yang lain adalah "kerakyatan". Apakah yang kerakyatan tidak neoliberal? Apakah yang neoliberal tidak merakyat?
Tanpa memahami sejarah munculnya istilah-istilah itu, pengungkapan istilah begini kelihatannya hanya berguna untuk menunjukkan identitas yang berbeda. Manfaatnya, sekarang ini pemilu sedang diselenggarakan dan sekarang capres-capres sedang berjuang merebut 'hati rakyat'. Di sisi lain, rakyatnya juga mendadak menjadi penuh perhatian dan ingin memperoleh kursi terbaik di panggung pemilu, agar bisa turut berpartisipasi dalam komentar dan diskusi.
Masalahnya, banyak hal tidak bisa dipandang terpisah, terisolasi, seperti yang didengar dalam banyak berita seperti sekarang. Misalnya tentang kerakyatan, apa yang bisa dikatakan tentang ekonomi yang merakyat? Semua ini disimbolkan dengan sikap 'berpihak' kepada rakyat yang secara tidak langsung mengatakan bahwa selama ini Pemerintah tidak berpihak pada rakyat. Tetapi kalau Pemerintah yang dipilih rakyat tidak berpihak kepada rakyat, bukankah seharusnya Dewan Perwakilan Rakyat sudah bertindak jauh-jauh hari, bukan hanya menjelang kampanye pemilu ini saja?
Lebih parah lagi, kenyataannya adalah DPR juga yang turut mengambil keputusan atas berbagai kebijakan, yang belakangan disebut tidak memihak rakyat. Nah, bagaimana menjelaskan ada perwakilan rakyat yang tidak memihak mereka yang diwakilinya? Inilah Indonesia yang membingungkan. Lantas seperti apa ekonomi yang merakyat itu?
Yang digambarkan kemudian adalah hal-hal yang populer di mata rakyat. Bukankah enak sekali kalau sekolah bisa betul-betul gratis, kalau harga bahan pokok tidak naik lagi, harga BBM tidak pernah naik lagi, dan segala hal yang diatur oleh PEMERINTAH, di mana pasar tidak lagi menjadi penentu atau penguasa, serta Indonesia berdiri sendiri untuk menentukan sendiri apa yang baik bagi rakyatnya.
Untuk mencapai tujuan-tujuan itu, tentunya harus ada orang-orang yang berani, yang bisa membabat habis korupsi, yang bijaksana untuk mengendalikan pasar dan harga-harga, yang bisa... seperti manusia yang serba-hebat dan serba-bisa, begitulah.
Kita semua setuju bahwa sudah waktunya korupsi sekarang juga dienyahkan dari bumi Indonesia. Tetapi, bagaimana mau menghilangkan korupsi jika kekuasaan untuk mengendalikan jatuh ke tangan sekelompok orang saja? Jika memang mau bebas korupsi, caranya adalah transparansi dan pembagian kekuasaan, bukan pemusatan kekuasaan.
Bayangkan ada sebuah pasar, di mana para penjual dan pembeli bertemu. Mereka semua asyik bertransaksi, dan tentunya ada kompetisi yang terjadi. Yang bawa barang paling bagus dan harga paling 'pas' menikmati proses dagang yang baik sampai barang bawaannya habis semua. Yang bawa barang jelek dan mau menjual dengan harga mahal, terpaksa gigit jari melihat pesaingnya laku berjualan sementara ia sendiri hanya duduk-duduk saja.
Tetapi kemudian, karena yang duduk-duduk itu jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang berdiri dan berseru-seru dan laku jualan, maka Penguasa Pasar datang dan membuat peraturan bahwa semua penjual harus bergiliran jualan dan semua pembeli harus menerima apa saja yang dijual dengan sebuah harga yang sama, walaupun kualitasnya berbeda. Dasarnya adalah tidak boleh ada orang yang menjadi miskin, sementara yang lain ada yang menjadi kaya.
Tentu saja pengaturan itu kelihatan bagus di awalnya, tetapi karena Penguasa itu manusia juga, maka ada orang yang berbisik-bisik dan menawarkan keuntungan ekstra bagi Penguasa supaya bisa mengatur transaksi yang lebih besar bagi dirinya sendiri. Maka Penguasa membuat peraturan baru dan tambahan baru, yang diam-diam menguntungkan sebagian orang dan merugikan orang yang lain. Siapa yang peduli? Yang dirugikan juga tidak mau ambil jalan konfrontasi, sebaliknya mengendap-endap mencari kesempatan untuk bisik-bisik lagi mencari celah dan jalan keuntungan...
Seperti itukah jenis ekonomi yang kita inginkan?
Atau, kita lebih suka melihat semua orang dipacu untuk memberikan yang terbaik dengan harga yang paling murah, sehingga para pembeli mendapatkan keuntungan yang terbesar? Sayangnya, cara seperti ini sudah kadung dicap sebagai "neoliberal", suatu produk yang dianggap jahat dan tidak pantas dijalankan di negeri ini. Masalahnya 80 persen pelaku bisnis ternyata tidak bisa memberikan yang terbaik dengan harga murah, karena tidak terbiasa berdisiplin dalam manajemen strategi, manajemen operasional, dan manajemen keuangan. Daripada susah-susah membangun pelaku usaha untuk kerja lebih baik, lebih mudah menerapkan prinsip kekuasaan untuk mengendalikan pasar, yang disukai dengan istilah "ekonomi kerakyatan" karena disebut-sebut membela rakyat kecil yang banyak jumlahnya.
Jika Indonesia hanya sebuah negara yang tidak berhubungan dengan dunia, barangkali kita bisa menerima (dengan rasa waswas) cara seperti ini. Kenyataannya, Indonesia tidak sendirian, karena negeri ini juga bertransaksi dengan dunia melalui ekspor dan impor. Dalam banyak hal seperti produk obat-obatan dan teknologi dan komunikasi, Indonesia masih bergantung kepada negara lain.
Masalahnya, tidak semua yang ada di negara ini berhasil bekerja dengan baik, dan kita harus menanggung 'kekalahan' transaksi dagang dengan banyak pihak lain. Indonesia bukannya tidak berusaha keras; karena akhirnya pelan-pelan cadangan devisa bisa bertambah juga sampai cukup untuk membiayai impor kurang lebih selama 4 bulan. Tetapi dana yang tersedia jumlahnya terbatas untuk wilayah dan penduduk yang begini luas dan banyak. Kalau sekarang Pemerintah harus memilih antara membayar utang luar negeri atau membayari kebutuhan rakyat yang miskin, yang manakah yang harus diprioritaskan?
Sebenarnya, kenyataan tentang kemiskinan rakyat tidak bisa dijawab dengan "keberpihakan" yang diartikan memberi BLT dan subsidi-subsidi serta peraturan yang mengecualikan mereka dari tuntutan untuk bekerja keras. Jika Pemerintah mengobral sekolah gratis dan subsidi yang meningkat terus -- seperti yang dinyatakan oleh sejumlah juru kampanye dalam pemilu -- maka yang diperoleh adalah ekonomi manja, bukan ekonomi kerakyatan.
Yang kita butuhkan adalah peraturan yang melindungi kesempatan yang adil bagi semua orang untuk berkembang, bukan pembatasan. Yang kita perlukan adalah kepastian bahwa tidak ada orang yang bisa memaksakan kehendak sehingga yang lebih maju harus berhenti atau mundur, demi membela yang tidak bekerja keras kelihatan maju. Yang kita perlukan adalah jaminan ada kesempatan yang sama bagi semua orang untuk bekerja, dan tidak perlu meminta izin melalui berbagai-bagai meja yang diisi oleh preman-preman dan perampok-perampok berbaju seragam.
Apakah seruan ini terbaca sebagai corak "neoliberal"? Ini bukan neoliberal, tetapi bisa saja orang memandangnya demikian. Tetapi kalau memang harus demikian, saya akan memilih orang yang masih memakai akal sehatnya dan melihat kebutuhan kita dalam jangka panjang, daripada mendengarkan mereka yang membujuk-bujuk dengan kenikmatan sesaat serta mengabaikan kerusakan jangka panjang.
setuju banget dengan ekonomi
setuju banget dengan ekonomi kerakyatan,,,,
seperti koperasiku, KOPMA UNY yang semakin hari semakin jaya
dan anggotanya pun semakin sejahtera,,,,
itu hanya sebuah contoh mikro aja,,,,haha,,,
mmmmmmm,,,,,,,,,
ada lagi nie,,,,,
ternyata disebuah negara maju, negara apa ya?lupa,,,hehe
yang memproduksi hape adalah sebuah koperasi lho????
yoi chuy.... tambah tahun
yoi chuy.... tambah tahun rakyat yang kaya dan yang miskin bisa di bedakan......... yang kaya tambah kaya,, yang miskin tambah melarat.......
Selama ini, sejak orde baru,
Selama ini, sejak orde baru, pemerintah memberikan keberpihakan kepada pengusaha besar dengan memberikan kue ekonomi yang besar kepada mereka dengan harapan terjadi trickle down effect. Keberhasian pengusaha besar diharapkan dapat melemparkan remah-remah ekonomi kepada yang lain. Kenyataannya, trickle down effect tidak pernah terjadi karena setiap kali piring pengusaha besar itu mulai tidak mampu menampung kue, mereka membuat piring yang lebih besar. Akibatnya, nggak pernah ada remah-remah ekonomi yang berceceran yang bisa dipungut rakyat.
Keberpihakan kepada yang besar itu telah menciptakan lingkaran setan kemiskinan yang tidak dapat dipecah. Rakyat termiskinkan secara struktural. Akses kepada kredit atau permodalan tertutup. Kalau pun ada, kredit kepada bakul maupun petani bunganya tinggi mencekik leher. Kredit untuk rakyat harus diambil di Bank Perkreditan Rakyat. Bunga pinjaman di BPR itu sangat tinggi karena BPR itu memberikan kredit kepada rayat dari dana hasil meminjam dari bank besar. Apabila kini ada KUR atau KUT, tentu melegakan kita semua.
Ekonomi kerakyatan, tentu saja memberikan keberpihakan yang luas kepada rakyat. Diharapkan tidak akan ada lagi keberpihakan kepada pengusaha-pengusaha besar yang rakus yang ternyata tidak mau membagi kue ekonomi kepada yang kecil. Malah, mereka ngemplang BLBI ratusan triyun padahal anggaran untuk mempertahankan negara ini hanya puluhan trilyun.
Memang ekonomi kerakyatan susah dijelaskan dengan teori ekonomi karena para ekonom kita belajarnya dari luar negeri. Mereka tidak mampu menciptakan teori ekonomi baru tetapi hanya bisa mbebek teori ekonomi ciptaan luar negeri. Apabila sudah begitu, apa iya kita masih berani bicara bahwa kita mampu berpikir?
ruwet sekali, memang butuh
ruwet sekali,
memang butuh komitmen yang super jelas untuk memperbaikinya dan rasa serta prinsip yang sama juga diaminin oleh seluruh rakyat dan pemerintah...
Dulu ada revolusi industri
Dulu ada revolusi industri terus muncul Marx yang menyelamatkan dunia dengan komunismenya dan terus muncul kapitalisme disusul liberalisme, terus neo liberalisme karena banyaknya monopoli dari MNC.
di Indonesia muncul Ekonomi Pancasila (agar didukung politik waktu itu) yang basisnya Ekonomi Rakyat Indonesia (istilahnya agak bau-bau kiri) sekarang muncul lagi karena dinamika politik. eh Mafia Berkeley dimunculkan lagi, tahun-tahun lalu kok sudah dilupakan. Ekonomi Kerakyatan (baca Indonesia, karena hanya cocok di Indonesia) basisnya MORAL (baca; kejujuran, keikhlasan, keterbukaan) kaca brenggalanya ya Koperasi.
Waduh banyak koperasi yang amburadul karena manajernya ngapusi, duitnya nggak karuan, karena manajemen berdasarkan kepercayaan dan pengurus banyak yang nggak mudeng bisnis hanya jabatan saja, terima gaji bulanan selesai, anggotanya ya tetap saja bodoh bodoh, anut saur waktu rapat anggota, nggak ada anggota yang terus jadi wiraswasta hebat, ya tetap saja anggota, ya tetap saja ngutang (hasil utama koperasi KSP)
Jadi mau Ekonomi Kerakyatan (Indonesia) siapkan Moral yang baik, suwun
saya sependapat dengan anda
saya sependapat dengan anda ekonomi kerakyatan memang lagi hangat-hangatnya, tetapi kongkretnya kalau kita dihadapkan dengan ekonomi itu sendiri pasti banyak yangg ga mau? mana ada orang yang hanya kerja gotong royong tanpa gaji ada pun kecil trus keuntungan koperasi yang relatif kecil karena bunga pinjamannya juga kecil. pantas saja menejemen koperasi banyak yang amburadul karena dikorupsi para menejernya dan karyawannya merajalela. jarang ada koperasi yang bertahan sampai sekarang.
terus kalo jaman dulu sembako murah semua murah ya wajar la wong utangnya juga banyak. ibarat kita makan daging tiap hari tapi ungutang yang sama doang susah...
Heeemm... saya mesti baca dua
Heeemm... saya mesti baca dua kali baru ngerti.
Anw tunggu saja apakah jargon ekonomi kerakyatan yg didengungkan tersebut akan dilaksanakan ?
Ato tinggal jargon belaka
semog bukan opsi kedua yg terjadi
ra mudengan kiiiiiii
ra mudengan kiiiiiii
taunya cuma kebutuhan rakyat yang ekonomis aja, ra mudengan ama ekonomi kerakyatan...ntar malah dijadiin sasaran dan korban character assasination =))
jangkrik bosss
konsep ekonomi kerakyatan
konsep ekonomi kerakyatan sesungguhnya sudah digagas oleh Moh Hatta. namun, setiap kali terjadi pergantian rezim, kosakata itu nyaris hanya jadi slogan penghibur buat rakyat yang selama ini memang sudah amat menderita akibat rendahnya daya beli dan rendahnya posisi tawar di mata calon penguasa atau penguasa.
Ekonomi kerakyatan....Rakyat
Ekonomi kerakyatan....Rakyat dan segala hal yang berbau RAKYAT lagi laku...!!! Sebagai pemanis mereka yang sedang menggelar dagangan......Sang Maestro sedang napak laku sebagai tukang jamu......
ngono iku kang, wong sing gak
ngono iku kang, wong sing gak tau ngerasakno bakulan nang pinggir ndalan, gak eruh sak tenane sing dibutuhkan rakyat untuk ikut bermain di sektor ekonomi itu bagaimana
orang miskin sekarang mang
orang miskin sekarang mang jarang ada yang bela...ekonomi juga nggak bela...
Ekonomi kerakyatan sedang
Ekonomi kerakyatan sedang dikumandangkan oleh mereka semua, sekarang hanya menunggu kata-kata mereka.
Saya sebagai rakyat
Saya sebagai rakyat mengatakan, apa yang menjadi kebijakan pemerintah sekarang belum memihak rakyat...
masyarakat kita yang masih
masyarakat kita yang masih awam tentang kebijakan ekonomi dan isme-isme tidak akan terlalu terpengaruh terhadap calon yang akan dipilihnya. nyang penting siapa yang giat serangan fajar pada saat masa tenang nanti, itu yang akan dipilih.
masalah kebijakan, mmm...
emang susah kalo talk show, debat, atau diskusi dengan orang pintar, karena secara penguasaan verbal, mereka jauh lebih pintar. apalagi batasan isme-isme ekonomi itu juga tidak jelas. bisa tarik ulur.
selamat datang di PT.
selamat datang di PT. NKRI....!!!
salam kenal mas, tak link ke t4ku ya..
dan yang lebih parahna lagi
dan yang lebih parahna lagi rakyat dipaksa untuk miskin dengan segala macam kebijakan2 yang berdalih pro rakyat. dalam pemilu tidak boleh golput, itu haram hukumnya, namun kenyataannya malah jutaan rakyat dipaksa golput. hidup golput
Hmmm.. kaya dan miskin..
Hmmm.. kaya dan miskin.. sulit dibedakan mas..
Mantap kang analisa nya cukup
Mantap kang analisa nya cukup tajam nih mengenai ekra, saya kagum dan senang dengan tulisan ini.
Dulu waktu ambil skripsi ama
Dulu waktu ambil skripsi ama dosenku ditanya arti dari ekonomi kerakyatan dan maksudnya apa...
sampe sekarang belum ketemu jawabnya
Ya begitulah keaadaannya,
Ya begitulah keaadaannya, ekonomi kerakyatan dijadikan issue hangat dalam kampanye pada pilpres nanti, dikemas sedemikian rupa hanya untuk kepentingan sesaat, padahal sebenarnya program itu harus dilakukan secara berkesinambungan, siapaun yang berkuasa nantinya.
Kelemahan saat ini adalah kita tidak memilki lagi GBHN yang jelas, sehingga tujuan negarapun menjadi berubah-rubah, padahal pembangunan ekonomi secara umum dipandang sebagai suatu masalah multidimensional yang mencakup segala aspek dan kebijaksanaan yang komprehensif, baik ekonomi maupun nonekonomi. Karena itu, penting menentukan sasaran pembangunan, agar tiap kebijakan ekonomi berdampak pada kehidupan rakyat yang lebih baik.
Salam
seng penteng wareg :D
seng penteng wareg
kaya miskin sama
kaya miskin sama saja......................sama-sama merusak lingkungan
Haruskah kemiskinan hanya
Haruskah kemiskinan hanya menjadi lipstik daya tarik bagi para politisi yang sedang memperebutkan kursi kekuasaan
waduh, pelajaran ekonomi dari
waduh, pelajaran ekonomi dari si Antok nih. puyeng akh!
saya ndak nyambung dengan
saya ndak nyambung dengan bahasa ekonomi yang kadang ketinggian itu mas, wis pokok budhal isuk mulih bengi, awal bulan gajian, akhir bulan entek. budhal isuk maneh, mulih bengi maneh, awal bulan gajian maneh. muter wae. hehe
Hidup rakyat
Hidup rakyat Indonesia...
rakyat, kemiskinan hanya dijadikan komoditas kampanye saja...
pidato? nek jare kancaku. ra
pidato?
nek jare kancaku. ra beras ra menir, ra nggagas ra mikir...
sing penting jatah urip dan kesempatan tersedia dengan merata, kuwi jenenge ekonomi kerakyatan...
selama pelajaran ekonomi
selama pelajaran ekonomi paling dasar menganjurkan untuk mencari keuntungan sebesar2nya dengan modal yang seminim2nya.. maka sepertinya ekonomi dengan label apapun akan tetap memunculkan monster2...
Memang dunia penuh anomali
Memang dunia penuh anomali mas... apalagi pejabat. Kita tunggu aja bukti nyatanya nanti...
Skeptis.... kita flashback
Skeptis.... kita flashback sebentar....
Para pemimpin negeri ini semua ingin mengangkat derajat ekonomi "wong cilik" (karepe),
sayang pelaksanaannya "ora niat" menguap ditengah jalan, para pelaksananya doyan duwit kabeh...!! Ndak ada pengawasan ..
Konsep ekonomi kerakyatan seperti apakah yang akan ditawarkan mr. Boed ini...
dapatkah semua terwujud?
dapatkah semua terwujud?
hmm, sebenarnya ekonomi
hmm, sebenarnya ekonomi kerakyatan tu konkrit tindakan nyatanya seperti apa ya?
wong banyak orang yg ga miskin aja susah tuk maju lagi ketiban resesi, seperti apa tindakan utk memajukan rakyat miskin?
sudah puluhan taun ganti presiden, tp kebanyakan rakyat mala ga sadar apa bedanya bagi mereka
Ekonomi Syari'ah? Seperti
Ekonomi Syari'ah? Seperti oase yg semakin nyata. Semoga bukan fatamorgana. Kalaupun iya, yg penting rakyat berperokonomian sejahtera.
aku bingung, sak jane ekonomi
aku bingung,
sak jane ekonomi kerakyatan ki opo?
bagiku sing penting adalah kemakmuran rakyat
dan kesejahteraan bersama.
arep ekonomi islam yo keneng, ekonomi kerakyatan oleh
ekonomi kapitalis ora popo, ekonomi marxian yo entuk.
yang penting makmur dan sejahtera..
Post new comment