Tertatih-tatih melewati malam demi malam, pagi demi pagi, siang demi siang hingga menggembung menjadi minggu bulan dan tahun. Jiwa nan sunyi tanpa penghuni dalam kesakitan dan kehampaannya semakin pasrah menerima nasib dan takdir cacatnya keterikatan yang telah menghancurkannya selama-lamanya. Tak ada dendam selain hutang untuk selalu berbuat baik,iklhlas tanpa reserve agar jiwa tanpa nama, penghuni dan hampa tersebut masih mampu menjalani apa yang masih menjadi tugas untuk diembannya yaitu hidup itu sendiri hingga maut yang dinantinya agar lebih cepat menghantamnya pun tak kunjung bisa mengalahkan dan mungkin juga emoh mengajaknya menyelesaikan kehidupan tanpa jiwa di bumi yang sudah bukan merupakan penjara lagi namun, sebuah awang-awang penuh dingin dan jarum yang menusuk-nusuk.